Sabtu, 13 Agustus 2016

Kisah Sang Pemburu



          Disuatu malam yang gelap terdapat seorang pemburu yang sedang mencari hewan untuk dimakan.Yah.... bagaimana tidak, sudah 2 minggu semenjak Si Pemburu pergi dari desa tempat kelahirannya yaitu Desa Selatan. Gempa yang dahsyat memporak- porandakan desa tersebut. Desa itupun hanjur dan hampir tak berbentuk. Si Pemburu yang saat itu berada diluar desa selamat, lalu meninggalkan desa dan berpergian kesana kemari mencari sesuatu untuk dimakan. Hingga akhirnya ia menemukan sebuah hutan yang lebat dan amat gelap

              “Tempat apa ini?, aku merasa ada yang aneh dengan hutan ini”

        Si pemburu sempat ragu dikarenakan hutan itu seperti memancarkan sebuah aura yang menyeramkan.

            “AH TIDAK PEDULI!!, lagipula untuk apa orang-orang di desa menamaiku pemburu jika tidak untuk berburu ditempat seperti ini. Hutan bukanlah masalah buatku. Aku sudah terbiasa dengan hal itu.”

            Nama asli sang pemburu ialah Gord Mogan. Ia sebenernya hanyalah warga biasa di Desa Selatan. Dia hidup sendiri, kedua orang tuanya meninggal dunia dikarenakan sakit yang parah dan tak kunjung sembuh, sedangkan kakaknya Korg Smith pergi berpetualang untuk mencari “Stone of the Lost” yang katanya mampu mengabulkan segala permintaan. Setelah itu kakaknya pun pergi dan tak pernah kembali. Sedangkan dia sendiri dijuluki Si Pemburu karena hobinya yang suka mencari makan di hutan dekat desanya dengan membunuh hewan dan mengambil tumbuhan. Selama 5 Tahun ia telah hidup sendiri. Sehari setelah kakaknya pergi gempa itu terjadi...

“Walau aku sering pergi kehutan dekat desaku hutan yang ini sangat aneh. Aku merasakan ada sesuatu yang mengawasiku di setiap langkah kakiku. SIAL!!. Mengapa hutan dekat desaku harus hangus terbakar, padahal kejadian yang menimpa tempat tinggalku adalah gempa, Aneh.., Ah sudahlah pokoknya harus dapat makanan.”

Setelah bepikir panjang dan dengan perut yang terus bergema ia terus mencari mangsa. Namun, anehnya hutan tersebut benar-benar sangat sunyi, bahkan begitu sunyinya sampai tidak ada suara sekalipun. Benar-benar hening. Menyadari hal tersebut Si Pemburu menyerah dan hampir meninggalkan tempat tersebut. Tiba-tiba terdengar suara!

            “T...l...on..”
            “To...lo....g”

            “Siapa disana?”, tanya Si Pemburu penasaran

             Kresek kresek

          Dengan cepat seorang gadis cantik keluar dari semak-semak dan mendekati Si Pemburu. Si Pemburupun kaget dan langsung menghentikannya.

            “SIAPA KAU?”, tanya Si Pemburu kaget.
            “Aku adalah gadis dari Desa Barat, tolong aku”, jawab gadis itu.
            “Kenapa aku harus menolongmu?”
            “Karena aku tersesat”
            “Kau tersesat?, lagipula kenapa kau bisa sampai disini”
            “Aku sedang mencari sebuah batu ajaib. Apa kau pernah dengar “Stone of the Lost”?”
        “(Hmmm..... itu adalah batu yang dicari kakak) Pernah, lagipula kenapa kau mencarinya disini?”
            “Karena kertas itu mengatakan aku harus menuju ke Timur untuk masuk kedalam hutan yang benar-benar sunyi”
            “Kertas?”
        “Iya, aku juga tidak tau, sesaat setelah aku pergi dari rumah dan mencari batu itu tiba-tiba secarik kertas turun entah dari mana dan mendarat didepanku”
           “Ooo.. jadi begitu (Bila aku mengikuti gadis ini aku pasti bisa menemukan kakak) Baiklah aku akan menemanimu, lagipula aku juga tidak tau harus kemana dan aku sangat lapar”
            “Kalau begitu ayo kita makan, aku membawa bekal”
            “(Haha memang untung tidak kemana) Baiklah, Terima Kasih”

           Mereka berdua pun berkemah dihutan dan makan bekal yang dibawa sang gadis sambil sedikit berbincang-bincang.

            “Ngomong-ngomong siapa namamu?”
            “Namaku Clarabel Rose, Kau?”
            “Aku Gord Mogan, Senang bertemu denganmu”
            “Senang bertemu denganmu”
            . . . . . . .
            “Ngomong-ngomong kenapa kau mencari batu itu?”
      “Ehh... sebenarnya aku hanya iseng mencari batu itu. Setelah mendapat kertas itu aku membacanya dan langsung pulang kerumah, tetapi 1 hari kemudian saat aku mengambil air di sungai aku merasakan getaran yang amat hebat. Akupun langsung berlari menuju ke desa yang ternyata sudah hancur lenyap seperti terkena gempa. Semua orang di desa itu hilang, aku bingung dan langsung mengikuti petunjuk kertas tersebut”
            “Tunggu dulu . . . Kau bilang terjadi gempa sehari setelah kau mencoba mencari batu itu?”
            “Iya”
           “Kakakku sebenarnya juga mencari batu itu, dan sehari setelahnya terjadi gempa didesaku, aku selamat dan langsung pergi dari desa itu”
            “Benarkah?, apakah gempa ini ada hubungannya dengan batu itu?”
            “Mungkin saja (Tapi kenapa?)”
        “Ayo kita bergegas menemukan batu itu, mungkin saja kita bisa mendapat petunjuk setelah menemukan batu tersebut”
            “Ya, Baiklah”

       Merekapun berkemas dan segera menyusuri hutan, tiba-tiba kertas kedua jatuh dihadapan mereka. “Teruslah berjalan kearah Timur hingga kau menemukan sebuah gerbang tua berbentuk setengah lingkaran dan tertutup lumut, lalu lewatlah melalui gerbang tersebut” begitulah isi dari kertas tersebut. Mereka lalu berjalan maju hingga sampai pada sebuah gerbang yang amat tua dan tertutup lumut. Mereka mendapati seperti ada tulisan yang tertutup lumut dan membersihkannya. “Go Forward” begitulah tulisannya.

           

“Bagaimana menurutmu, Rose?”
            “Sepertinya ini tempatnya, ayo kita lewati”
            “Hmm.... iya”

         Setelah melewati gerbang merekapun dikejutkan oleh pemandangan yang luar biasa indah. Pohon-pohon hijau nan sejuk, burung-burung berkicauan nan merdu, dan hewan-hewan berkeliaran seperti layaknya hutan hujan tropis yang masih belum tersentuh oleh manusia.
           
            “Wow!!...... Tempat apa ini”
            “Sepertinya ini adalah dunia lain dari hutan yang tadi”
            “Tapi ini begitu indah, aku sampai tidak ingin pergi dari tempat ini”
            “Cepat Rose, perjalanan kita masih jauh”
            “Baiklah”

            Sesaat ketika hendak bergerak kertas ketiga jatuh dihadapan mereka “Pergilah ke arah Barat kau akan menemukan sebuah kuil, jika dari posisi keluar gerbang kau pasti menghadap ke Barat”

            “Jadi dari sini kita tinggal berjalan lurus?”
            “Ya... begitulah”

         Mereka terus berjalan dan berjalan hingga akhirnya mereka keluar dari hutan dan melihat tempat yang sungguh berbeda dari tempat mereka sebelumnya. Tidak ada jalan beraspal hanya ada rerumputan, seperti kehidupan pada zaman dahulu kala. Sambil menikmati angin yang sejuk mereka meneruskan perjalanan, hingga akhirnya menemukan sebuah kuil. Namun, tidak seperti yang mereka bayangkan, kuil tersebut sangat utuh dan bahkan terlihat kokoh dan masih baru. Karena penasaran mereka mendekatinya dan kertas keempat turun dihadapan mereka. “Masuklah kedalam kuil tersebut disana kau akan menemukan petunjuk berikunya” Mereka akhirnya memasuki kuil tersebut tanpa pikir panjang. Tiba-tiba batu-batu besar jatuh menimpa pintu kuil tersebut membuat mereka terkunci didalamnya. Setelah sekian detik obor-obor disamping kuil mulai menyala dan menunjukkan jalan.

            “Wow... aku sempat kaget tadi, kau tidak apa-apa?”
            “Eh... ya aku tidak apa-apa”
            “Baiklah. Bagaimana, kita lanjut?”
            “Iyalah, lagipula mau kemana lagi?, kita sudah tidak bisa kembali”
            “Kau benar, ayo berangkat”

      Dalam kuil tersebut tentu saja banyak benda-benda kuno, namun masih terlihat bagus. Mengetahui hal itu Si Pemburu dan Gadis tersebut melihat-lihat benda didalam kuil sambil berkeliling disekitar . Tiba-tiba Si Pemburu seperti menemukan pintu yang terkunci dari dalam. Si Pemburupun memanggil Sang Gadis dan menanyakan ke gadis tersebut. Akhirnya mereka berdua setuju dan Si Pemburu mendobrak pintu tersebut dengan sekuat tenaga. Tetapi, walau Si Pemburu sudah mendobrak pintu tersebut tidak dapat membuka. Merekapun mencari kunci untuk pintu tersebut. Muncullah kertas kelima bertuliskan “Kunci untuk pintu ada didalam laci di bawah tempat rias.  Pintu itu juga merupakan jalan tercepat untuk ke tempat selanjutnya, tetapi jika kau melewati pintu itu akan banyak rintangan menanti. Disisi lain ada jalur yang jauh dengan rintangan yang mudah dengan melewati ruang bawah tanah di samping kuil”.

            “Rose, bagaimana ini?”
            “Entahlah, mungkin lebih baik kita menuju ke ruang bawah tanah yang katanya lebih mudah”
            “Tetapi, jika kita melewati pintu ini kita bisa lebih cepat sampai ke petunjuk berikutnya”
            “Tapi, katanya dibalik pintu itu banyak rintangan akan menanti kita”
            “Hmm... Baiklah terserah kau saja”
            “Yosss.. kita lewat bawah tanah”

            Mereka berduapun setuju untuk melewati ruang bawah tanah di samping kuil. Sesaat setelah mereka masuk ruang tersebut tempat masuk ruang bawah tanah langsung tertutup. Awalnya mereka panik, namun apa boleh buat demi mengetahui kejadian apa yang menimpa mereka dan untuk kembali ke dunia mereka berasal mereka melanjutkan perjalanan. Setelah masuk, mereka melihat pemandangan yang tidak kalah dengan hutan hujan tropis di tempat mereka berasal. Suasana seperti berada di gua ada air terjun yang mengaliri, jalanan berupa pasir dan bebatuan. Merekapun berfikir bahwa rintangannya hanyalah harus melewati tempat yang curam dan terjal seperti ini hingga mereka sampai ditempat tujuan. Setelah perjalanan selama setengah hari mereka pun beristirahat di dekat air terjun yang lumayan tinggi.

            “Hey, ngomong-ngomong berapa umurmu, Rose?”
            “Umurku 18 tahun, kau?”
            “Wah.. tidak beda jauh ya”
            “ Memang berapa umurmu, Mogan”
            “Aku 20 tahun”
            “Iya, kau benar”
            . . . Hening . . .
            “Emmm..  Rose sebenarnya..”
            “Kenapa?”
            “Aku . . .”
            “Hmm..”
            “M....ny..k..im..”
            “Hah apa?”
            “Eh, tidak apa.. ha ha ha”
          “Heh aku kira ada apa. Baiklah selagi kita di air terjun aku mau mandi dulu, Jangan Ngintip, Ya!!”
            “Iya, iya”
            . . . byur byur byur . . .
         (“Eh buset kenapa tidak bilang saja kalau aku menyukainya, tidak kusangka selama melakukan perjalanan ini aku menyukainya”). Pikir Mogan dalam hati.
            “Ahh... segarnya. Kamu kenapa Mogan?, Wajahmu serius sekali”
            “Eh, tidak apa-apa. Baiklah kalau kamu selesai ayo lanjut”
            “Iya”
       (“Yaahh... Kau bodoh sekali Mogan, baiklah aku akan mengatakannya setelah semua ini selesai, Yap”). Pikir Mogan dalam hati sambil mengangguk-angguk.
           
            Merekapun melanjutkan perjalanan. Tak lama kemudian mereka melihat sebuah cahaya yang terang yang ternyata adalah pintu keluar. Mereka senang sekali hingga mucul kertas keenam bertuliskan “Dari tempatmu beranjak pergilah ke Utara hingga kau menemukan sebuah batu yang sangat besar kira-kira 2 kali tinggi manusia”. Sang Pemburu merasakan sesuatu yang janggal dan meminta Sang Gadis untuk memperlihatkan semua kertas yang ada.

           

            “Pergilah ke arah Utara lalu masuklah kedalam hutan yang ada disana. Hutan itu sangat sunyi bahkan suara hewanpun tidak akan ada”
           
            “Teruslah berjalan kearah Timur hingga kau menemukan sebuah gerbang tua berbentuk setengah lingkaran dan tertutup lumut, lalu lewatlah melalui gerbang tersebut”

            “Pergilah ke arah Barat kau akan menemukan sebuah kuil, jika dari posisi keluar gerbang kau pasti menghadap ke Barat”

            “Masuklah kedalam kuil tersebut disana kau akan menemukan petunjuk”

            “Kunci untuk pintu ada didalam laci di bawah tempat rias.  Pintu itu juga merupakan jalan tercepat untuk ke tempat selanjutnya, tetapi jika kau melewati pintu itu akan banyak rintangan menanti. Disisi lain ada jalur yang jauh dengan rintangan yang mudah dengan melewati ruang bawah tanah di samping kuil”

            “Dari tempatmu beranjak pergilah ke Utara hingga kau menemukan sebuah batu yang sangat besar kira-kira 2 kali tinggi manusia”

            “Rose, apa kau merasakan ada sesuatu yang ganjil?’
            “Tidak, memangnya kenapa?”
            “Baiklah, sekarang ingatlah semua tempat yang pernah kita lewati”
            “Hmmmm........... Ya, lalu?”
            “Sekarang perhatikan, dari kertas pertama memang tidak aneh karena hutan sangat luas dan bisa dijangkau pada jarak yang jauh sekalipun. Tetapi, saat petunjuk kedua dan seterusnya yang kita lakukan hanya berjalan lurus mengikuti arah yang disebutkan dalam kertas. Seperti semuanya sudah diatur sedemikian rupa”
            “Waaahhh... Kau benar juga. Karena terlalu senang aku jadi tidak menghiraukan hal tersebut”
            “Senang?... Kau senang?”
            “Eeee... Memang aku tidak boleh senang?”
            “Ya, boleh saja ( Ada apa dengannya? )
            “Sudahlah, lupakan ayo kita lanjut”
            “Baiklah”

       Mereka melanjutkan perjalanan hingga ke batu yang sangat besar. Seperti yang dituliskan dikertas batu itu memiliki tinggi 2 kali tinggi manusia. Kertas ketujuh jatuh “Sekarang kau sentuh batu itu dan tutup matamu selama 1 menit. Ingat, jangan coba-coba membuka mata saat menyentuh batu itu”

“Baiklah Rose, Ingat jangan membuka mata ya”
“Iya, aku tahu”

Tiba-tiba sebuah tempat seperti desa yang sangat besar dan luas muncul setelah satu menit mereka memejamkan mata. Sang Pemburu dan Sang Gadis juga melihat orang-orang yang ada didesa mereka dahulu berada ditempat itu. Merekapun bertanya pada orang-orang yang mereka kenal, namun penduduk desa semua hanya tertawa dan menyuruh mereka bertanya sendiri ke kepala desa di desa ini di rumahnya. Ternyata semua orang didesa itu juga mengalami hal yang sama dan demi mengakhiri perang Si Kepala Desa menyatukan keempat desa. Desa Utara, Desa Timur, Desa Barat, dan Desa Selatan. Dan selama ini desa mereka hancur setelah semua orang berpindah dan sepertinya Si Pemburu dan Sang Gadis merupakan yang terakhir makanya mereka melihat gempa didesa mereka.

“Kalau begitu, kakakku ada disini?” tanya Pemburu.
“Ya, tentu saja. Karena batu terakhir yang kau pegang adalah batu yang biasa disebut “Stone of the Lost”. Jelas Kepala Desa.


Sang Pemburu akhirnya menemukan kakaknya yang sedang memancing dipinggir sungai dan langsung memeluknya sambil menangis. Di waktu yang sama Sang Gadis juga menemukan keluarganya. Seminggu setelahnya Sang Pemburu melamar Sang Gadis. Setelah 43 kali melamar akhirnya Sang Gadis menerimanya dan mereka dikaruniai 2 anak dari pernikahannya. Sekarang semua orang hidup menjadi satu dalam perdamaian tanpa perang maupun pertumpahan darah. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar