Disuatu malam yang gelap terdapat
seorang pemburu yang sedang mencari hewan untuk dimakan.Yah.... bagaimana tidak,
sudah 2 minggu semenjak Si Pemburu pergi dari desa tempat kelahirannya yaitu
Desa Selatan. Gempa yang dahsyat memporak- porandakan desa tersebut. Desa
itupun hanjur dan hampir tak berbentuk. Si Pemburu yang saat itu berada diluar
desa selamat, lalu meninggalkan desa dan berpergian kesana kemari mencari
sesuatu untuk dimakan. Hingga akhirnya ia menemukan sebuah hutan yang lebat dan
amat gelap
“Tempat apa ini?, aku merasa ada
yang aneh dengan hutan ini”
Si pemburu sempat ragu dikarenakan
hutan itu seperti memancarkan sebuah aura yang menyeramkan.
“AH TIDAK PEDULI!!, lagipula untuk
apa orang-orang di desa menamaiku pemburu jika tidak untuk berburu ditempat
seperti ini. Hutan bukanlah masalah buatku. Aku sudah terbiasa dengan hal itu.”
Nama asli sang pemburu ialah Gord
Mogan. Ia sebenernya hanyalah warga biasa di Desa Selatan. Dia hidup sendiri,
kedua orang tuanya meninggal dunia dikarenakan sakit yang parah dan tak kunjung
sembuh, sedangkan kakaknya Korg Smith pergi berpetualang untuk mencari “Stone of the Lost” yang katanya mampu
mengabulkan segala permintaan. Setelah itu kakaknya pun pergi dan tak pernah
kembali. Sedangkan dia sendiri dijuluki Si Pemburu karena hobinya yang suka
mencari makan di hutan dekat desanya dengan membunuh hewan dan mengambil
tumbuhan. Selama 5 Tahun ia telah hidup sendiri. Sehari setelah kakaknya pergi
gempa itu terjadi...
“Walau
aku sering pergi kehutan dekat desaku hutan yang ini sangat aneh. Aku merasakan
ada sesuatu yang mengawasiku di setiap langkah kakiku. SIAL!!. Mengapa hutan
dekat desaku harus hangus terbakar, padahal kejadian yang menimpa tempat tinggalku
adalah gempa, Aneh.., Ah sudahlah pokoknya harus dapat makanan.”
Setelah
bepikir panjang dan dengan perut yang terus bergema ia terus mencari mangsa.
Namun, anehnya hutan tersebut benar-benar sangat sunyi, bahkan begitu sunyinya
sampai tidak ada suara sekalipun. Benar-benar hening. Menyadari hal tersebut Si
Pemburu menyerah dan hampir meninggalkan tempat tersebut. Tiba-tiba terdengar
suara!
“T...l...on..”
“To...lo....g”
“Siapa disana?”, tanya Si Pemburu
penasaran
Kresek
kresek
Dengan cepat seorang gadis cantik
keluar dari semak-semak dan mendekati Si Pemburu. Si Pemburupun kaget dan
langsung menghentikannya.
“SIAPA KAU?”, tanya Si Pemburu
kaget.
“Aku adalah gadis dari Desa Barat,
tolong aku”, jawab gadis itu.
“Kenapa aku harus menolongmu?”
“Karena aku tersesat”
“Kau tersesat?, lagipula kenapa kau
bisa sampai disini”
“Aku sedang mencari sebuah batu
ajaib. Apa kau pernah dengar “Stone of
the Lost”?”
“(Hmmm..... itu adalah batu yang dicari kakak) Pernah, lagipula
kenapa kau mencarinya disini?”
“Karena kertas itu mengatakan aku harus
menuju ke Timur untuk masuk kedalam hutan yang benar-benar sunyi”
“Kertas?”
“Iya, aku juga tidak tau, sesaat
setelah aku pergi dari rumah dan mencari batu itu tiba-tiba secarik kertas
turun entah dari mana dan mendarat didepanku”
“Ooo.. jadi begitu (Bila aku mengikuti gadis ini aku pasti bisa
menemukan kakak) Baiklah aku akan menemanimu, lagipula aku juga tidak tau
harus kemana dan aku sangat lapar”
“Kalau begitu ayo kita makan, aku
membawa bekal”
“(Haha memang untung tidak kemana) Baiklah, Terima Kasih”
Mereka berdua pun berkemah dihutan
dan makan bekal yang dibawa sang gadis sambil sedikit berbincang-bincang.
“Ngomong-ngomong siapa namamu?”
“Namaku Clarabel Rose, Kau?”
“Aku Gord Mogan, Senang bertemu
denganmu”
“Senang bertemu denganmu”
. . . . . . .
“Ngomong-ngomong kenapa kau mencari
batu itu?”
“Ehh... sebenarnya aku hanya iseng mencari
batu itu. Setelah mendapat kertas itu aku membacanya dan langsung pulang kerumah,
tetapi 1 hari kemudian saat aku mengambil air di sungai aku merasakan getaran
yang amat hebat. Akupun langsung berlari menuju ke desa yang ternyata sudah
hancur lenyap seperti terkena gempa. Semua orang di desa itu hilang, aku
bingung dan langsung mengikuti petunjuk kertas tersebut”
“Tunggu dulu . . . Kau bilang
terjadi gempa sehari setelah kau mencoba mencari batu itu?”
“Iya”
“Kakakku sebenarnya juga mencari
batu itu, dan sehari setelahnya terjadi gempa didesaku, aku selamat dan
langsung pergi dari desa itu”
“Benarkah?, apakah gempa ini ada
hubungannya dengan batu itu?”
“Mungkin saja (Tapi kenapa?)”
“Ayo kita bergegas menemukan batu
itu, mungkin saja kita bisa mendapat petunjuk setelah menemukan batu tersebut”
“Ya, Baiklah”
Merekapun berkemas dan segera
menyusuri hutan, tiba-tiba kertas kedua jatuh dihadapan mereka. “Teruslah berjalan kearah Timur hingga kau
menemukan sebuah gerbang tua berbentuk setengah lingkaran dan tertutup lumut,
lalu lewatlah melalui gerbang tersebut” begitulah isi dari kertas tersebut.
Mereka lalu berjalan maju hingga sampai pada sebuah gerbang yang amat tua dan
tertutup lumut. Mereka mendapati seperti ada tulisan yang tertutup lumut dan
membersihkannya. “Go Forward”
begitulah tulisannya.
“Bagaimana
menurutmu, Rose?”
“Sepertinya ini tempatnya, ayo kita
lewati”
“Hmm.... iya”
Setelah melewati gerbang merekapun dikejutkan
oleh pemandangan yang luar biasa indah. Pohon-pohon hijau nan sejuk,
burung-burung berkicauan nan merdu, dan hewan-hewan berkeliaran seperti layaknya
hutan hujan tropis yang masih belum tersentuh oleh manusia.
“Wow!!...... Tempat apa ini”
“Sepertinya ini adalah dunia lain
dari hutan yang tadi”
“Tapi ini begitu indah, aku sampai
tidak ingin pergi dari tempat ini”
“Cepat Rose, perjalanan kita masih
jauh”
“Baiklah”
Sesaat ketika hendak bergerak kertas
ketiga jatuh dihadapan mereka “Pergilah
ke arah Barat kau akan menemukan sebuah kuil, jika dari posisi keluar gerbang
kau pasti menghadap ke Barat”
“Jadi dari sini kita tinggal
berjalan lurus?”
“Ya... begitulah”
Mereka terus berjalan dan berjalan
hingga akhirnya mereka keluar dari hutan dan melihat tempat yang sungguh
berbeda dari tempat mereka sebelumnya. Tidak ada jalan beraspal hanya ada rerumputan,
seperti kehidupan pada zaman dahulu kala. Sambil menikmati angin yang sejuk
mereka meneruskan perjalanan, hingga akhirnya menemukan sebuah kuil. Namun,
tidak seperti yang mereka bayangkan, kuil tersebut sangat utuh dan bahkan
terlihat kokoh dan masih baru. Karena penasaran mereka mendekatinya dan kertas
keempat turun dihadapan mereka. “Masuklah
kedalam kuil tersebut disana kau akan menemukan petunjuk berikunya” Mereka
akhirnya memasuki kuil tersebut tanpa pikir panjang. Tiba-tiba batu-batu besar
jatuh menimpa pintu kuil tersebut membuat mereka terkunci didalamnya. Setelah
sekian detik obor-obor disamping kuil mulai menyala dan menunjukkan jalan.
“Wow... aku sempat kaget tadi, kau
tidak apa-apa?”
“Eh... ya aku tidak apa-apa”
“Baiklah. Bagaimana, kita lanjut?”
“Iyalah, lagipula mau kemana lagi?, kita
sudah tidak bisa kembali”
“Kau benar, ayo berangkat”
Dalam kuil tersebut tentu saja
banyak benda-benda kuno, namun masih terlihat bagus. Mengetahui hal itu Si
Pemburu dan Gadis tersebut melihat-lihat benda didalam kuil sambil berkeliling
disekitar . Tiba-tiba Si Pemburu seperti menemukan pintu yang terkunci dari
dalam. Si Pemburupun memanggil Sang Gadis dan menanyakan ke gadis tersebut.
Akhirnya mereka berdua setuju dan Si Pemburu mendobrak pintu tersebut dengan
sekuat tenaga. Tetapi, walau Si Pemburu sudah mendobrak pintu tersebut tidak
dapat membuka. Merekapun mencari kunci untuk pintu tersebut. Muncullah kertas
kelima bertuliskan “Kunci untuk pintu ada
didalam laci di bawah tempat rias. Pintu
itu juga merupakan jalan tercepat untuk ke tempat selanjutnya, tetapi jika kau
melewati pintu itu akan banyak rintangan menanti. Disisi lain ada jalur yang
jauh dengan rintangan yang mudah dengan melewati ruang bawah tanah di samping
kuil”.
“Rose, bagaimana ini?”
“Entahlah, mungkin lebih baik kita
menuju ke ruang bawah tanah yang katanya lebih mudah”
“Tetapi, jika kita melewati pintu
ini kita bisa lebih cepat sampai ke petunjuk berikutnya”
“Tapi, katanya dibalik pintu itu
banyak rintangan akan menanti kita”
“Hmm... Baiklah terserah kau saja”
“Yosss.. kita lewat bawah tanah”
Mereka berduapun setuju untuk
melewati ruang bawah tanah di samping kuil. Sesaat setelah mereka masuk ruang
tersebut tempat masuk ruang bawah tanah langsung tertutup. Awalnya mereka
panik, namun apa boleh buat demi mengetahui kejadian apa yang menimpa mereka
dan untuk kembali ke dunia mereka berasal mereka melanjutkan perjalanan.
Setelah masuk, mereka melihat pemandangan yang tidak kalah dengan hutan hujan
tropis di tempat mereka berasal. Suasana seperti berada di gua ada air terjun
yang mengaliri, jalanan berupa pasir dan bebatuan. Merekapun berfikir bahwa
rintangannya hanyalah harus melewati tempat yang curam dan terjal seperti ini
hingga mereka sampai ditempat tujuan. Setelah perjalanan selama setengah hari
mereka pun beristirahat di dekat air terjun yang lumayan tinggi.
“Hey, ngomong-ngomong berapa umurmu,
Rose?”
“Umurku 18 tahun, kau?”
“Wah.. tidak beda jauh ya”
“ Memang berapa umurmu, Mogan”
“Aku 20 tahun”
“Iya, kau benar”
. . . Hening . . .
“Emmm.. Rose sebenarnya..”
“Kenapa?”
“Aku . . .”
“Hmm..”
“M....ny..k..im..”
“Hah apa?”
“Eh, tidak apa.. ha ha ha”
“Heh aku kira ada apa. Baiklah
selagi kita di air terjun aku mau mandi dulu, Jangan Ngintip, Ya!!”
“Iya, iya”
. . . byur byur byur . . .
(“Eh
buset kenapa tidak bilang saja kalau aku menyukainya, tidak kusangka selama
melakukan perjalanan ini aku menyukainya”). Pikir Mogan dalam hati.
“Ahh... segarnya. Kamu kenapa Mogan?, Wajahmu serius
sekali”
“Eh, tidak apa-apa. Baiklah kalau
kamu selesai ayo lanjut”
“Iya”
(“Yaahh...
Kau bodoh sekali Mogan, baiklah aku akan mengatakannya setelah semua ini
selesai, Yap”). Pikir Mogan dalam hati sambil mengangguk-angguk.
Merekapun melanjutkan perjalanan.
Tak lama kemudian mereka melihat sebuah cahaya yang terang yang ternyata adalah
pintu keluar. Mereka senang sekali hingga mucul kertas keenam bertuliskan “Dari tempatmu beranjak pergilah ke Utara
hingga kau menemukan sebuah batu yang sangat besar kira-kira 2 kali tinggi
manusia”. Sang Pemburu merasakan sesuatu yang janggal dan meminta Sang
Gadis untuk memperlihatkan semua kertas yang ada.
“Pergilah
ke arah Utara lalu masuklah kedalam hutan yang ada disana. Hutan itu sangat
sunyi bahkan suara hewanpun tidak akan ada”
“Teruslah
berjalan kearah Timur hingga kau menemukan sebuah gerbang tua berbentuk
setengah lingkaran dan tertutup lumut, lalu lewatlah melalui gerbang tersebut”
“Pergilah
ke arah Barat kau akan menemukan sebuah kuil, jika dari posisi keluar gerbang
kau pasti menghadap ke Barat”
“Masuklah
kedalam kuil tersebut disana kau akan menemukan petunjuk”
“Kunci
untuk pintu ada didalam laci di bawah tempat rias. Pintu itu juga merupakan jalan tercepat untuk
ke tempat selanjutnya, tetapi jika kau melewati pintu itu akan banyak rintangan
menanti. Disisi lain ada jalur yang jauh dengan rintangan yang mudah dengan
melewati ruang bawah tanah di samping kuil”
“Dari
tempatmu beranjak pergilah ke Utara hingga kau menemukan sebuah batu yang
sangat besar kira-kira 2 kali tinggi manusia”
“Rose, apa kau merasakan ada sesuatu yang ganjil?’
“Tidak, memangnya kenapa?”
“Baiklah, sekarang ingatlah semua
tempat yang pernah kita lewati”
“Hmmmm........... Ya, lalu?”
“Sekarang perhatikan, dari kertas
pertama memang tidak aneh karena hutan sangat luas dan bisa dijangkau pada
jarak yang jauh sekalipun. Tetapi, saat petunjuk kedua dan seterusnya yang kita
lakukan hanya berjalan lurus mengikuti arah yang disebutkan dalam kertas.
Seperti semuanya sudah diatur sedemikian rupa”
“Waaahhh... Kau benar juga. Karena
terlalu senang aku jadi tidak menghiraukan hal tersebut”
“Senang?... Kau senang?”
“Eeee... Memang aku tidak boleh
senang?”
“Ya, boleh saja ( Ada apa dengannya? )”
“Sudahlah, lupakan ayo kita lanjut”
“Baiklah”
Mereka melanjutkan perjalanan hingga
ke batu yang sangat besar. Seperti yang dituliskan dikertas batu itu memiliki
tinggi 2 kali tinggi manusia. Kertas ketujuh jatuh “Sekarang kau sentuh batu itu dan tutup matamu selama 1 menit. Ingat,
jangan coba-coba membuka mata saat menyentuh batu itu”
“Baiklah
Rose, Ingat jangan membuka mata ya”
“Iya,
aku tahu”
Tiba-tiba
sebuah tempat seperti desa yang sangat besar dan luas muncul setelah satu menit
mereka memejamkan mata. Sang Pemburu dan Sang Gadis juga melihat orang-orang
yang ada didesa mereka dahulu berada ditempat itu. Merekapun bertanya pada
orang-orang yang mereka kenal, namun penduduk desa semua hanya tertawa dan
menyuruh mereka bertanya sendiri ke kepala desa di desa ini di rumahnya.
Ternyata semua orang didesa itu juga mengalami hal yang sama dan demi
mengakhiri perang Si Kepala Desa menyatukan keempat desa. Desa Utara, Desa
Timur, Desa Barat, dan Desa Selatan. Dan selama ini desa mereka hancur setelah
semua orang berpindah dan sepertinya Si Pemburu dan Sang Gadis merupakan yang
terakhir makanya mereka melihat gempa didesa mereka.
“Kalau
begitu, kakakku ada disini?” tanya Pemburu.
“Ya,
tentu saja. Karena batu terakhir yang kau pegang adalah batu yang biasa disebut “Stone of the Lost”. Jelas Kepala Desa.
Sang
Pemburu akhirnya menemukan kakaknya yang sedang memancing dipinggir sungai dan
langsung memeluknya sambil menangis. Di waktu yang sama Sang Gadis juga
menemukan keluarganya. Seminggu setelahnya Sang Pemburu melamar Sang Gadis.
Setelah 43 kali melamar akhirnya Sang Gadis menerimanya dan mereka dikaruniai 2
anak dari pernikahannya. Sekarang semua orang hidup menjadi satu dalam
perdamaian tanpa perang maupun pertumpahan darah.