Kriiinggg….. Kriiiiingg…..Kriiiiiingg…… Suara alarm
jam kamarku berbunyi pertanda hari sudah pagi. Aku bersiap – siap dan berangkat
kesekolah. “Hai, Steve” “O…. Haru, Hai”. Steve Hammerson itulah namaku, pelajar
kelas 2 di SMA Kafersein salah satu sekolah favorit didaerahku. Dan Haru Savire
adalah sahabat perempuanku, dia berada di kelas dan sekolah yang sama denganku
semenjak SD, entah kenapa semenjak SD hingga sekarang dia selalu satu sekolah,
bahkan satu kelas denganku. Orangnya tergolong cantik dan baik hati, dia selalu
membantuku jika aku melewatkan pelajaran tertentu. Jam pelajaran pertamapun
dimulai
Matematika,
pelajaran yang paling kubenci. Aku sangat benci angka, jika melihat angka aku
berasa ingin membuangnya ditoilet dan menggosoknya hingga bersih. Setelah guru menjelaskan panjang lebar akhirnya pelajaran usai dan
waktunya istirahat. Seperti biasa Haru mendatangiku dan mengajak makan bersama
dibangkuku. Akupun mengiyakannya.
“Hoi, Steve apakah
pelajaran tadi menyenangkan?”
“Tentu, saja tidak,
John”.
Dan yang satu ini
adalah temanku semenjak kelas satu berada di SMA ini. John Gobber dialah yang
duduk bersamaku selama MOS berlangsung. Dia memiliki wajah yang tergolong enak
dipandang, orangnya tergolong bersifat ceria dan humoris dia selalu datang
kepadaku saat aku sedang dalam keadaan . . . ya.. bisa dibilang bad mood. Kami bertiga selalu bersama
disaat jam – jam istirahat seperti ini dan mulai menjadi sahabat semenjak kelas
1 SMA, kecuali Haru yang sudah mengenalku sejak SD.
Bel
masuk berbunyi, jam pelajaran ke 4 akan dimulai. Kami segera bergegas
membersihkan barang – barang kami dan kembali ketempat duduk masing – masing.
Pelajaran Sejarah dimulai. Entah kenapa, tiba – tiba aku merasa ingin buang air
kecil. Akupun meminta izin kepada guru dan pergi ke kamar mandi. “Ahhh… lega”
kataku sambil buang air. Tiba – tiba aku mendengar suara air penyiram dari
ruangan sebelahku menyala. Anehnya suara itu tidak berhenti hingga beberapa
menit. Akupun heran dan mengintip dari bawah pintu bilik kamar mandi. Tidak ada
orang disana. Dengan rasa penasaran yang luar biasa, akupun membuka pintu bilik
tersebut, yang benar saja, tidak dikunci. Semakin penasaran aku membukanya
lebar sambil sedikit menabrakkan pintunya dengan keras ke dinding. Suaranya
menghilang. Semakin takut, akupun kembali kekelas sambil berlari. Tentu saja
guruku heran melihatku ketakutan.
“Ada apa, Steve?”
tanya guruku keheranan.
“Oh… Tidak apa –
apa, bu tadi ada kecoa di tempat buang air”, jawabku sambil memasang muka takut.
“Baiklah silahkan
duduk”
“Terima kasih, bu”.
Sepertinya John
dan Haru juga keheranan melihatku. Hingga berganti jam pelajaran aku benar –
benar tidak dapat berkonsentrasi, Aku masih kepikiran oleh suara dari kamar
mandi tadi.
Bel
berbunyi tanda waktunya pulang. Dijam pulang sekolah John tiba – tiba
menggoyang – goyangkan kepalaku, karena aku terlihat melamun katanya.
”Hei, kau kenapa
Steve?” tanya John heran
“Tidak apa – apa”
Jawabku
“Baiklah kalau
begitu, aku pergi dulu”
“Oke”
John mengikuti klub OSIS disekolah ini, yaaa…
tentu saja pasti dia sibuk. Sedangkan aku mengikuti klub Bulu tangkis, Aku
sebenarnya tidak memiliki ketertarikan tehadap klub apapun yang ada disekolah
ini, tetapi sekolah memiliki peraturan paling tidak siswa harus mengikuti satu
kegiatan klub, jadi apa boleh buat. Karena saat kecil aku pernah dibilang
lumayan mahir dalam bulu tangkis, akupun mengikuti bulu tangkis. Disisi lain
Haru mengambil klub Bahasa dan Sastra Jepang. Dia ingin mendalami Bahasa Jepang
dikarenakan ayahnya orang Inggris sedangkan ibunya orang Jepang, sehingga ia
ingin mempelajari keduanya disini. Dia bilang ada rapat setelah pulang sekolah
hari ini, jadi dia harus bergegas keruang klubnya. Akupun pulang sendiri karena
tidak ada kegiatan klub. Biasanya kami pulang bersama, rumah John agak dekat
dengan sekolah jadi yang biasa menemani aku sampai rumah adalah Haru. Jarak
rumah kami hanya berseberangan gang.
Akhirnya sampai
dirumah. Aku menutup pintu dan langsung masuk kekamar.
Tok Tok Tok
“Steve, aku pergi
kerumah temanku katakan pada ibu atau ayah jika mereka sudah datang”
“Iya, kak”
Cony Clayton, kakakku,
umurnya berselisih 5 tahun denganku. Dia masih kuliah S1 dan akan lulus
sebentar lagi. Dia sering bermain keluar bersama teman – temannya disekolah.
Memang kakakku tergolong populer dikarenakan wajahnya yang terbilang ganteng,
tidak seperti aku yang pas – pasan. Aku tidak begitu berbaur dikelas. Temanku
tidak lain dan tidak bukan adalah Haru dan John, memang ada beberapa teman dari
SMP yang ada disini, tapi aku tidak begitu akrab dengan mereka. Aku selalu
merasa minder dalam bergaul. Hal yang aku lakukan saat dirumah hanyalah bermain
HP atau membaca buku. Hari ini John tiba – tiba mengirim pesan berisi ajakan
untuk makan bersama diwarung dekat rumahnya pada pukul 8 malam nanti, karena
katanya ada menu baru, tentu saja dia juga mengajak Haru. Karena tidak ada
kegiatan lain, akupun ikut.
Pukul 6 ayahku
pulang bersama ibukku dari pekerjaannya, ayahku menjalankan usaha kecil –
kecilan disuatu tempat, ibuku juga bekerja dengan membantunya berjualan. Galard
Hammerson dan Desy Clayton adalah nama kedua orang tuaku. Akupun memberitahu
mereka bahwa kakak sedang main keluar dengan temannya dan aku ada janji makan
bersama pukul 8 nanti, mereka mengizinkanku. Aku kembali menutup kamar sambil
tiduran menunggu waktu menunjukkan pukul 8, tiba – tiba aku teringat kejadian
di kamar mandi tadi. Aku berusaha keras mencoba berpikir positif tentang
kejadian itu, tapi tetap saja itu selalu mengganjal dipikiranku. Sudah pukul 7.40,
perjalanan kesana pasti akan memakan waktu, karena rumah John agak jauh dari
rumahku dan Haru, aku langsung saja berangkat. Kebetulan saat keluar rumah aku
melihat Haru dipertigaan dan langsung memanggilnya.
”Haruu…”
“Hai, Steve
kebetulan ketemu kamu” balasnya
“iya, haha”
balasku malu – malu.
Sekedar info
sebenarnya aku menyukai Haru sejak pertama kali kita berteman, dia baik hati
dan cantik, namun aku selalu berpikir mana mungkin aku berpacaran dengannya,
Maksutku dengan mukaku yang pas – pasan dan hidupku yang serba suram mana
mungkin Haru mau denganku. Jadi, aku selalu memendamnya semenjak pertama
bertemu dengannya. Bagiku melihat senyumannya saja sudah membuatku bahagia.
“Bagaimana kalau
kita berangkat bersama, sehubung dengan jalan yang kita tuju juga sama?” pinta
Haru.
Bukan main
senangnya diriku bisa berjalan sendirian bersama Haru. Saking senangnya aku
lupa untuk menjawabnya dan senyum – senyum sendiri.
“Steve?” kata Haru
sambil melambaikan tangannya didepan wajahku
”Oh… ya ya Haha”
jawabku gugup, kami berdua pun berjalan bersama menuju rumah John.
Akhirnya sampai
dirumah John, kami berdua memanggilnya, tidak lama kemudian dia keluar lalu
menuntun kami pergi kewarung yang berada didekat rumahnya.
“Karena aku yang
mengajak aku akan mentraktir kalian, minumnya es teh tidak apa – apakan?” kata
John sembari menutup pintu rumahnya dan menghampiri kami
“Ya, John terima
kasih” jawab aku dan Haru bersamaan.
Ternyata menu
barunya terasa sangat lezat dan porsinya tergolong besar jika dibandingkan
dengan porsi biasa diwarung ini, dan harganya juga fantastis. Setelah makan
John mengajak kami kerumahnya sebentar untuk berbincang – bincang. Sampai
dirumah John timbul keinginanku untuk menceritakan kejadian dikamar mandi.
Setelah dipersilahkan duduk, John berganti baju sebentar, lalu kembali dan ikut
duduk bersama kami.
“Eh John, Haru
dengarkan aku baik – baik” aku langsung memulai percakapan
“Memangnya ada apa
Steve, kau kelihatan serius sekali?” Tanya John keheranan
“Iya, ada apa
Steve?” tanya Haru polos
“Begini
bla…bla…bla…bla…bla…” aku menceritakan kejadian yang aku alami dikamar mandi.
Tiba – tiba John tertawa sambil berkata
“Hahahaha mungkin
ada hantu yang kencing disitu wkwkwk”
“Aku serius, John”
jawabku serius
“Mungkin hanya
halusinasimu saja, Steve” jawab Haru polos
“Meskipun begitu
tetap saja mengganjal dipikiranku” jawabku sedikit panik
“Yah baiklah besok
kita bicarakan lagi disekolah kalau kau melihatnya lagi” jawab John dengan
masih sedikit tertawa
Aku dan Haru
berpamitan dengan John lalu pulang bersama
“Sudah jangan
terlalu dipikirkan, kita lihat besok saja kalau masih seperti itu kau bisa menceritakannya
kepada kami” kata Haru mencoba menenangkanku
“Ya, terima kasih
Haru” jawabku.
Setelah
mengantarnya sampai pertigaan gang kami aku pulang kerumah, ternyata orang tua
dan kakakku sudah tidur. Aku mengunci pintu rumah dan pagar lalu pergi kekamar
dan langsung tidur.
Esok paginya aku
bangun, bersiap – siap dan berangkat kesekolah. Pelajaran pertama adalah Bahasa
Inggris, aku beralasan untuk pergi kekamar mandi ditengah – tengah jam
pelajaran. Begitu masuk kamar mandi tidak terjadi apa – apa, lalu aku mencoba
untuk buang air. Yang benar saja suara air dari dalam toilet kembali berbunyi
dan suaranya berasal dari ruangan yang sama, aku mencoba mengintipnya. Kali ini
berbeda aku melihat sekelebat bayangan putih bergerak cepat lalu menghilang
dari dalam bilik kamar mandi itu. Aku langsung berlari keruang BK dan
menceritakan apa yang barusaja aku alami. Guru itu keheranan karena dari dulu
sampai sekarang belum ada murid yang terganggu dikamar mandi itu. “Mungkin
hanya halusinasimu saja” kata Guru tersebut. Akupun meninggalkan Ruang BK
sambil keheranan apakah ‘itu’ ada hubungannya dengan aku. Aku kembali kekelas
dan menunggu hingga jam istirahat sambil memerhatikan guru Bahasa Inggris menjelaskan.
Bel istirahat berbunyi. Seperti biasa John dan Haru langsung menghampiriku
“Kami tau kau tadi
mencoba kekamar mandi karena penasaran dengan kejadian yang kau alami kemarin kan?”
tanya John
“Tentu saja” jawabku
sedikit membentak
“Lalu bagaimana?”
tanya Haru
“Setelah
mendengarkan penjelasan dari Ruang BK sepertinya ‘dia’ hanya menggangguku tapi
tidak mengganggu murid lain” jawabku sambil memasang wajah serius
“Lalu kau mau
bagaimana?” tanya John
“Aku akan mencoba
ke orang pintar untuk menanyakan hal ini” jawabku
“Yah sepertinya
itu satu – satunya pilihan, baiklah aku akan menemanimu” balas John
“Tidak aku, sendiri
saja lagipula ini masalahku, aku takut kalian akan terlibat juga dengan ini”
jawabku
“Baiklah kalau
begitu, hati – hati ya” balas Haru.
Jam istirahat usai
dan dilanjutkan jam pelajaran Sosial dan Biologi lalu pulang. Hari ini Haru ada
acara dengan temannya jadi hanya aku dan John, tapi seperti biasa rumah John
dekat dengan sekolah, jadi dia pulang terlebih dahulu. Aku sendirian.
Sampai dirumah
hanya ada kakak, sepertinya orang tuaku belum pulang. Aku langsung bertanya
pada kakakku apakah dia tahu atau memiliki kenalan semacam orang pintar.
Untungnya ada, dan jaraknya hanya 3 rumah dengan rumahku. Bagaimana aku bisa
tidak tahu??. Selesai makan malam aku meminjam uang kakakku lalu pergi kerumah
sang orang pintar. Tentu saja rumah orang itu seperti berbau mistis. Aku
mengetuk beberapa kali hingga ia mengizinkanku masuk.
“Ada masalah apa?”
tanya orang pintar tersebut sambil menyuruhku duduk. Aku duduk dan langsung
menjelaskan.
“Begini, aku
merasa diikuti oleh ‘sesuatu’ bisakah kau menanyakannya, kenapa dia
mengikutiku?” jawabku sedikit gugup dengan penampilan orang pintar tersebut
“Sebentar”
jawabnya sambil mengucapkan bahasa yang tidak aku mengerti. Setelah sekian
menit dia akhirnya berbicara,“Dia mengikutimu karena dia bilang dia mengenalmu,
dia juga meminta maaf padamu karena hanya bisa menampakkan dirinya dikamar
mandi dan membuat kesalahpahaman” kata orang pintar tersebut
“Apa?!?! Bisakah
kau tahu siapa dia?” jawabku sambil kaget dan kebingungan
“Sebentar” sambil
mengucapkan kata kata aneh.“Katanya namanya Keny, Keny Catherine, dan dia juga
mengatakan akan berhenti mengganggumu
dan akan menemanimu hingga ingatanmu kembali” jelas orang pintar tersebut.
“Tu… tunggu….”
Kataku penasaran sambil terbata – bata, “Maaf tapi dia sudah pergi” kata orang
pintar tersebut.
“Baiklah, terima
kasih pak, ini uangnya” jawabku sambil menaruh uang dimejanya. Akupun meninggalkan
rumahnya dan kembali kerumah.
Sesampainya
dirumah aku benar – benar bingung, apa maksud dari semua ini, Keny…
mengenalku?…sampai ingatanku kembali?…, semua kata – kata itu masih terngiang
dikepalaku. Kakakku bertanya ada apa kau mencari orang pintar, aku menjawab
tidak apa – apa hanya penasaran lalu kakakku tidak menghiraukanku, aku langsung
pergi kekamar dan merebahkan badanku dikasur. Aku lalu tiduran memikirkan hal
itu hingga akhirnya aku tertidur.
Esok pagi karena
semakin penasaran aku berangkat sekolah pagi sekali. Tidak ada suara lagi
seperti sebelumnya. Aku berpikir ini benar – benar perbuatannya si Keny itu,
tapi siapa dia?. Aku kembali kelas dan ternyata John dan Haru sudah datang. Mereka
langsung bertanya padaku “Bagaimana?” tanya mereka berdua, “Dia tiba-tiba
menghilang” jawabku, “Bagus kalau begi..” sesaat sebelum John menyelesaikan
kalimatnya aku langsung memotong perkataannya, “Tapi, sekarang aku malah
semakin bingung dan penasaran” jawabku dengan muka kebingungan, “Memangnya
kenapa?” tanya Haru, “Apakah kalian pernah mendengar nama Keny? Keny…. Keny….
Keny Catherine?” aku bertanya balik. “Siapa itu, pacarmu?” jawab John sambil
menggodaku, “Bukan” jawabku sambil ngotot, “Kalau kau Haru?” aku bertanya pada
Haru, “Nahhh… entahlah siapa itu?” jawabnya pelan. Haru nampak murung saat aku
menanyakan tentang Keny Catherine. Tiba – tiba ia meninggalkan kami dan
mengatakan ingin pergi ke toilet, sesaat dia melewati pintu kelas aku melihat
dia sedikit meneteskan air mata nya. Aku semakin keheranan. “Hei, Aku tau kau
menyukai Haru tapi jangan melihatnya seperti itu” kata John.
Jam – jam sekolah
kulalui seperti biasa, kecuali wajah Haru yang akhir akhir ini nampak sedih
selama Jam setelah istirahat bahkan saat jam pulang dia masih terlihat sedih.
Aku juga merasa seperti dia menjauhiku. Dalam perjalanan pulang setelah John
berpisah, John menyuruhku untuk menghibur Haru. Aku bertanya padanya “Haru, kau
kenapa? Kau seperti terlihat sedih” tanyaku, “Steve, begini, apa yang dikatakan
oleh Keny melalui orang pintar tersebut” tiba – tiba dia menanyaiku sambil berwajah
serius bercampur sedih, “Dia mengatakan namanya dan dia mengatakan akan
berhenti mengganggu hingga ingatanku kembali” ,setelah mengatakan itu Haru
langsung menangis dan memelukku erat, sejujurnya aku senang sekali, tapi entah
kenapa aku seperti ikut terbawa kesedihan yang diluapkan Haru hingga meneteskan
air mata tanpa alasan, aku memeluknya kembali “Sudah Haru jangan menangis, aku
jadi ikut sedih” jawabku. Haru melepaskan pelukannya dan dia langsung berlari
pulang meninggalkanku. Akupun pulang sendirian dan sejak melihat Haru seperti
itu, setiap aku sendirian aku selalu merasakan kesedihan yang tidak aku ketahui
penyebabnya. Sesampainya dirumah aku makan malam dan kembali memikirkan
semuanya, ditambah reaksi Haru yang barusan, malah semakin membuatku bingung
akan seluruh permasalahan ini. Hingga akhirnya tertidur.
Esok paginya dikelas
John terlihat seperti sedang mencari seseorang dan kemudian bertanya padaku
“Hey, Steve apa kau melihat Haru?”, “Tidak, memangnya kemana dia?” aku bertanya
balik, “Jarang sekali sudah jam segini dia masih belum datang” jelas John. Jam
pelajaran dimulai oleh pelajaran Matematika, Haru tetap tidak datang, ini aneh,
“Apa Haru sedang sakit?” pikirku. Pada jam istirahat, aku bertanya kepada John
apakah dia mau ikut denganku pergi kerumah Haru untuk menjenguknya karena
mungkin saja ia sakit, Johnpun ikut. Ketika bel tanda sekolah usai berbunyi,
kami berdua bergegas pergi kerumah Haru. Tidak tahu dengan John, tapi ini
adalah pertama kalinya aku bertamu kerumah Haru, biasanya aku hanya lewat
memberitahukan PR jika Haru sakit, atau sekedar lewat. Kami mengetuk sebentar
dan memanggil Haru. Tak lama kemudian Haru keluar, tapi dia hanya membuka sedikit
pintu rumahnya dan mengintip kami dari balik pintu hanya menunjukkan sebagian
wajahnya. “Apa…?” tanya Haru dingin, “Kami ingin menjengukmu, apa kau tidak
enak badan?” tanya John, “Tidak, aku tidak apa – apa, kalian pulang saja” jawab
Haru sambil menutup pintunya dengan cepat. “Wiiihhh Haru bisa serem juga ya?,
sebenarnya ada apa dengannya?” kata John yang masih keheranan, “Entahlah” Aku
juga tidak tahu apa yang terjadi dengan Haru. Seperti yang kalian ketahui, aku
sudah mengenal Haru semenjak SD tapi hanya itu saja. Aku tidak dapat mengingat
apa – apa saja yang dulu aku lakukan semasa kecilku. Aku memang ingat bagaimana
dulu aku bertemu dan kemudian berteman dengan Haru, tapi aku merasa ada hal
penting yang terlupakan. “Kau tidak tahu apa yang tidak kau ketahui” seperti
itu rasanya. Jika aku mencoba mengingatnya tidak ada satupun hal yang dapat terpikirkan,
terasa seperti benar – benar tidak ada apa apa. Setelah berpisah dengan John
diperempatan, aku berjalan menuju kerumah. Sesampainya dirumah, aku langsung
melemparkan tubuhku keatas kasur dan bermain hp. Tiba – tiba ada pesan masuk,
ternyata dari Haru. Pesan itu bertuliskan kata – kata pendek berbunyi ‘semoga
kau mengingatnya’, dan tiga buah gambar, yaitu gambar seorang ayah, ibu, anak
perempuan dan anak laki laki yang wajahnya mirip sepertiku. Aku benar – benar
bingung dan langsung membalasnya dengan menanyakan siapa mereka. Tapi, Haru
sudah tidak membalasku lagi. Aku tetap menunggu balasannya hingga pukul 11. Akupun
tertidur. Aku tiba – tiba terbangun, tapi tubuhku terasa bergerak sendiri, aku
menyimpulkan bahwa aku sedang bermimpi. Dimimpi tersebut aku bertemu dengan
Ayah, Ibu dan adik perempuan pada foto
yang dikirim Haru. Dimulai dari masuk ke entah rumah siapa, makan bersama tiga
orang yang ada difoto, mandi lalu berjalan menuju kamar untuk tidur. Tiba –
tiba aku mencium bau terbakar dari luar kamar, asap itu banyak sekali hingga masuk
kedalam kamarku lalu………..
Kriiiiiiingg…….Kriiiiiingg…….Kriiiiiiinggg,
Aku dibangunkan oleh alarmku dipagi hari. “Ah sial mengganggu saja” kataku
dalam hati. Akupun segera bangun dan berangkat kesekolah. Kebingunganku semakin
bertambah oleh kejadian saat aku bermimpi akupun tidak memperdulikannya dan
tetap berangkat. Aku sempat bertemu John dijalan dan kita berangkat bersama
hingga kekelas, tetapi Haru… tetap tidak datang.
Aku melalui segala
aktivitas dan pelajaran disekolah seperti biasa dan aku akan mencoba menjenguk Haru
satu kali lagi. Aku mengajak John, tapi ia bilang ia tidak bisa. Orang tuanya
memanggilnya karena ada urusan penting, jadi dia tidak ikut. Akhirnya aku
berangkat sendiri. Sampai didepan rumah Haru, aku hanya mengetuk pintunya pelan
dan tidak memanggilnya, aku takut dia merasa
terganggu. Pintu depan rumah terbuka Haru kembali mengintip dari balik pintu,
tapi belum sempat aku mengatakan apa – apa dia langsung menyuruhku masuk begitu
melihatku. Aku masuk kedalam rumah Haru, sambil melihat sekeliling. Haru
sepertinya orang yang cukup kaya, dilihat dari banyak lukisan, dan hiasan serta
perabot – perabot yang terlihat mahal. Setelah puas melihat – lihat tidak
terasa dia menuntunku berjalan hingga kekamarnya. “Yang benar saja” dia
langsung mempersilahkanku masuk, aku benar – benar senang. Setelah berada
dikamar kami berdua duduk terdiam selama beberapa menit, Akupun memberanikan
diri bertanya “Ada apa Haru?”. Dia tidak menjawab pertanyaanku melainkan dengan
tegas ia mengatakan “Coba kau usap bagian atas kepalaku”, Sialllllll, ada apa
dengannya hari ini!?!??! tiba – tiba menyuruhku mengusap kepalanya, aku terus
berdiam diri berpikir apakah aku benar – benar boleh mengusap kepalanya.
Setelah melihatku yang terdiam cukup lama dia mengatakan “Sudah lakukan saja”,
“ Eh… baiklah” aku menjawabnya dengan gugup. Saat mengusapnya perlahan – lahan,
entah kenapa aku mengingat pernah mengusap kepala seorang gadis seperti ini dulu,
Ya… seorang gadis….. saat aku berada dirumah sakit dulu. Aku merasa aneh, aku
bahkan tidak ingat bahwa aku pernah pergi kerumah sakit manapun. Aku teringat
sesuatu, tapi saat mengingatnya kepalaku menjadi sangat tidak karuan. Aku
merasakan rasa sakit yang luar biasa dikepalaku tiba – tiba aku tertidur.
Saat bangun aku
sadar aku berada dirumah sakit, aku melihat Haru yang menunduk dan menangis
didepanku sambil memegang tangan kiriku. Aku senang sekali, tangannya yang
kecil dan halus seakan memberikan ketenangan pada diriku. Lalu ia mengangkat
wajahnya keatas sambil memperhatikanku, setelah itu dia langsung menaruh tangan
kiriku keatas kepalanya. Aku sepertinya mengingat sesuatu yang aku tidak
ketahui…banyak hal, banyak hal, banyak hal, banyak hal…………eh tunggu ada apa ini
tiba – tiba seakan pikiranku dirasuki sesuatu. Banyak ingatan – ingatan yang
masuk kedalam pikiranku, aku mulai merasa aneh…… ada apa ini?….
Aku ingat!
Aku mengingat
semuanya!
Aku mengingat
segala hal yang terjadi padaku dulu. Mulai dari adik perempuanku Keny Catherine,
ayahku, ibukku, masa – masa kecilku bersama Haru dan kejadian besar yang
menimpaku. Dan nama ayah ibuku adalah……..Tommy Hammerson dan Lona Catherine.
Tu…tunggu dulu lalu siapa itu Galard Hellington dan Desy Clayton?......Tak lama
kemudian kedua orang tuaku datang, mereka mengatakan bahwa mereka datang
secepat mungkin setelah mendapat pesan dari Haru. Mereka takut aku terkena apa
– apa. Ayahku langsung bertanya kepadaku “Apa yang terjadi padamu?”, ibuku ikut
bertanya “Apa kau kelelahan atau mungkin terkena penyakit serius?”. Setelah
membiarkan mereka menyelesaikan kata – katanya aku langung mengatakan sesuatu
pada mereka “Biar aku luruskan segalanya, sekarang jawab SIAPA KALIAN
SEBENARNYA?”. “Kami orang tuamu Steve?” jawab ibuku dengan wajah yang nampak
sedih. “Jangan bohong, aku ingat sekali wajah orang tuaku, sekarang katakan
SIAPA KALIAN SEBENARNYA???” balasku sambil membentak mereka. Setelah terdiam
cukup lama, dengan bernafas berat ayahku langsung menjawab. “ Nak… sepertinya
kami tidak bisa menyembunyikan ini lagi….huuuuhh…… baiklah akan aku ceritakan. “Dahulu
Ayahmu dan aku adalah sahabat ditempat kerja, dia selalu membantuku dan aku
juga selalu membantunya. Tak lama kemudian kami berdua masing – masing menikah,
dan kemudian masing – masing mempunyai anak, tetapi kami masih bekerja ditempat
yang sama. Ayahmu dikaruniai dua anak, sedangkan aku hanya satu”. Suatu hari
ditempat kerja aku melihat ayahmu, dia terlihat sangat kelelahan. Aku bertanya
ada apa dengannya?, dia hanya menjawab tidak apa – apa. Karena begitu katanya
aku hanya menyuruhnya untuk banyak – banyak beristirahat dirumah. Tiba saat jam
pulang kerja, ayahmu tampak semakin kelelahan. Aku melihatnya pulang kerumah
sambil membawa botol yang kelihatannya berisi alkohol. Akupun menghampirinya
untuk mengingatkannya bahwa apapun yang terjadi jangan sampai kau meminum
sesuatu yang seperti ini. Dia tersenyum dan mengatakan terima kasih atas
sarannya, tetapi tetap membawanya pulang. Karena aku curiga dia pasti akan
meminumnya. Akupun mengikutinya sampai kedepan rumahnya. Tak lama ia masuk
rumah, aku mendengar teriakan pelan. Terdengar seperti ayahmu memarahi ibumu,
aku hanya mendengar sedikit perkataannya dan yang paling sering terdengar
adalah nama Keny. Lalu tiba – tiba beberapa menit kemudian terdengar pukulan
dan pecahan kaca. Karena semakin penasaran aku masuk kedalam pekarangannya dan
mengintip lewat jendela. Aku terkaget melihat ibumu tertidur dilantai dengan
darah dikepalanya dan terlapisi minyak,
juga darah yang ada di pecahan botol kaca yang dipegang oleh ayahmu. Aku ingin
masuk kedalam, tetapi sudah terlambat. Ayahmu tiba – tiba menyalakan api dari
korek kayu dan menjatuhkannya kelantai. Seketika itu rumahmu terbakar. Aku
segera berlari keluar dan menelpon polisi dan pemadam kebakaran. Sesaat setelah
api mulai menyebar aku melihat seseorang yang mencoba melompat dari lantai dua
rumah tersebut. Orang itu adalah kau. Kau melompat sambil menggendong adikmu,
lalu jatuh dan langsung tak sadarkan diri. Aku langsung kembali kepekarangan
dan membawa kalian keluar. 10 menit kemudian polisi dan pemadam datang. Aku
menceritakan segalanya dan menelpon ambulan untukmu. Saat dirumah sakit aku
terus bersamamu dan adikmu sambil menangis melihat hancurnya keluarga
sahabatku, hingga kau terbangun. Kau tiba – tiba bertanya “Dimana Keny….
Katakan DIMANA KENY?”. Keny sudah tidak terselamatkan lagi banyak luka bakar di
sekujur tubuhnya selagi ambulan mengantarkan kesini dia sudah………. Mendengar itu
kau langsung bangun melihatnya berbaring di tempat tidur sebelahmu sambil
menangis tidak karuan dan berteriak. Setelah itu kaupun tertidur dan aku tetap
menemanimu. Esok paginya aku terbangun kau sudah tidak ada dikasur dan jendela
rumah sakit terbuka. Sepertinya kau ingin bunuh diri dengan melompat dari
lantai dua dan jatuh hingga kepalamu berdarah. Setelah bangun kau benar tidak
mengingat apa – apa. Kau bahkan tidak tahu siapa dirimu untungnya kau masih
hidup. Mengetahui itu aku sangat senang dan sedih lalu memutuskan untuk
merawatmu ketika kau sudah sembuh total. Aku meminta dokter untuk mengubah
namamu menjadi Steve Hammerson, namamu sebenarnya adalah Steve Hellington dan….”
“Sudah cukup,
hentikan…… aku sudah….. sudah…… mengingatnya jadi HENTIKAN……..” jawabku sambil
menangis tersedu sedu.
Belum sempat aku
menghentikan tangisanku tiba-tiba Keny muncul dihadapanku. Dia lalu tersenyum
lebar dan mengatakan “Terima kasih kakak sudah mencoba menyelamatkanku, aku
tahu kakak memang baik hati, tapi aku mohon janganlah mencoba untuk bunuh diri.
Karena itu bisa membuatku sedih”. Setelah itu Keny menghilang. “Iya, Keny kau
benar aku beruntung masih bisa hidup didunia ini, aku beruntung masih ada yang
mau mengasuhku, aku juga beruntung punya keluarga seperti dulu, dan ………. Aku
beruntung punya adik sepertimu… hiks….hiks”. Setelah mengetahui semuanya aku
langsung memeluk ayah ibukku dan meminta maaf pada mereka. Aku tidak peduli
jika kita tidak memiliki darah yang sama Ayahku adalah ayahku Ibuku adalah
ibuku. Itulah hal yang bisa membuatku bertahan sampai sekarang ini ditambah
kata-kata Keny.
2 Minggu setelah
itu aku merasa lebih termotivasi untuk menjalani hidupku. Aku lalu mengikuti
ekskul Band disekolahku, aku sering mengikuti olimpiade-olimpiade yang diadakan
oleh sekolah, Aku mulai lebih sering bergaul dengan teman-temanku dan …….
“Hai, Haru”
“Hai, Steve”
“A… a….”
“Hmmm?”
“Apa kau mau jadi
pacarku?”
Whooo…… (Suara
teriakan anak-anak dikelas)
“Hmmm…. Ma…”
“Eit sedang apa
kalian?”
Entah dari mana
John muncul dan mengganggu pembicaraan pentingku dengan Haru
“Eh, John mengganggu
saja”
“Sudahlah
bagaimana kalau pergi kekantin?”
“Aku ikut” kata
Haru
“Heh…. Baiklah aku
ikut”
Pada akhirnya kita
bertiga kembali seperti biasa. 3 siswa SMA yang akrab dan bersahabat.