Sabtu, 19 November 2016

Kesepian




           Kriiinggg….. Kriiiiingg…..Kriiiiiingg…… Suara alarm jam kamarku berbunyi pertanda hari sudah pagi. Aku bersiap – siap dan berangkat kesekolah. “Hai, Steve” “O…. Haru, Hai”. Steve Hammerson itulah namaku, pelajar kelas 2 di SMA Kafersein salah satu sekolah favorit didaerahku. Dan Haru Savire adalah sahabat perempuanku, dia berada di kelas dan sekolah yang sama denganku semenjak SD, entah kenapa semenjak SD hingga sekarang dia selalu satu sekolah, bahkan satu kelas denganku. Orangnya tergolong cantik dan baik hati, dia selalu membantuku jika aku melewatkan pelajaran tertentu. Jam pelajaran pertamapun dimulai

            Matematika, pelajaran yang paling kubenci. Aku sangat benci angka, jika melihat angka aku berasa ingin membuangnya ditoilet dan menggosoknya hingga bersih. Setelah guru menjelaskan panjang lebar akhirnya pelajaran usai dan waktunya istirahat. Seperti biasa Haru mendatangiku dan mengajak makan bersama dibangkuku. Akupun mengiyakannya.

“Hoi, Steve apakah pelajaran tadi menyenangkan?”
“Tentu, saja tidak, John”.

Dan yang satu ini adalah temanku semenjak kelas satu berada di SMA ini. John Gobber dialah yang duduk bersamaku selama MOS berlangsung. Dia memiliki wajah yang tergolong enak dipandang, orangnya tergolong bersifat ceria dan humoris dia selalu datang kepadaku saat aku sedang dalam keadaan . . . ya.. bisa dibilang bad mood. Kami bertiga selalu bersama disaat jam – jam istirahat seperti ini dan mulai menjadi sahabat semenjak kelas 1 SMA, kecuali Haru yang sudah mengenalku sejak SD.

            Bel masuk berbunyi, jam pelajaran ke 4 akan dimulai. Kami segera bergegas membersihkan barang – barang kami dan kembali ketempat duduk masing – masing. Pelajaran Sejarah dimulai. Entah kenapa, tiba – tiba aku merasa ingin buang air kecil. Akupun meminta izin kepada guru dan pergi ke kamar mandi. “Ahhh… lega” kataku sambil buang air. Tiba – tiba aku mendengar suara air penyiram dari ruangan sebelahku menyala. Anehnya suara itu tidak berhenti hingga beberapa menit. Akupun heran dan mengintip dari bawah pintu bilik kamar mandi. Tidak ada orang disana. Dengan rasa penasaran yang luar biasa, akupun membuka pintu bilik tersebut, yang benar saja, tidak dikunci. Semakin penasaran aku membukanya lebar sambil sedikit menabrakkan pintunya dengan keras ke dinding. Suaranya menghilang. Semakin takut, akupun kembali kekelas sambil berlari. Tentu saja guruku heran melihatku ketakutan.

“Ada apa, Steve?” tanya guruku keheranan.
“Oh… Tidak apa – apa, bu tadi ada kecoa di tempat buang air”, jawabku sambil memasang muka takut.
“Baiklah silahkan duduk”
“Terima kasih, bu”.

Sepertinya John dan Haru juga keheranan melihatku. Hingga berganti jam pelajaran aku benar – benar tidak dapat berkonsentrasi, Aku masih kepikiran oleh suara dari kamar mandi tadi.

            Bel berbunyi tanda waktunya pulang. Dijam pulang sekolah John tiba – tiba menggoyang – goyangkan kepalaku, karena aku terlihat melamun katanya.

”Hei, kau kenapa Steve?” tanya John heran
“Tidak apa – apa” Jawabku
“Baiklah kalau begitu, aku pergi dulu”
“Oke”

John mengikuti klub OSIS disekolah ini, yaaa… tentu saja pasti dia sibuk. Sedangkan aku mengikuti klub Bulu tangkis, Aku sebenarnya tidak memiliki ketertarikan tehadap klub apapun yang ada disekolah ini, tetapi sekolah memiliki peraturan paling tidak siswa harus mengikuti satu kegiatan klub, jadi apa boleh buat. Karena saat kecil aku pernah dibilang lumayan mahir dalam bulu tangkis, akupun mengikuti bulu tangkis. Disisi lain Haru mengambil klub Bahasa dan Sastra Jepang. Dia ingin mendalami Bahasa Jepang dikarenakan ayahnya orang Inggris sedangkan ibunya orang Jepang, sehingga ia ingin mempelajari keduanya disini. Dia bilang ada rapat setelah pulang sekolah hari ini, jadi dia harus bergegas keruang klubnya. Akupun pulang sendiri karena tidak ada kegiatan klub. Biasanya kami pulang bersama, rumah John agak dekat dengan sekolah jadi yang biasa menemani aku sampai rumah adalah Haru. Jarak rumah kami hanya berseberangan gang.

Akhirnya sampai dirumah. Aku menutup pintu dan langsung masuk kekamar.

Tok Tok Tok

“Steve, aku pergi kerumah temanku katakan pada ibu atau ayah jika mereka sudah datang”
“Iya, kak”

Cony Clayton, kakakku, umurnya berselisih 5 tahun denganku. Dia masih kuliah S1 dan akan lulus sebentar lagi. Dia sering bermain keluar bersama teman – temannya disekolah. Memang kakakku tergolong populer dikarenakan wajahnya yang terbilang ganteng, tidak seperti aku yang pas – pasan. Aku tidak begitu berbaur dikelas. Temanku tidak lain dan tidak bukan adalah Haru dan John, memang ada beberapa teman dari SMP yang ada disini, tapi aku tidak begitu akrab dengan mereka. Aku selalu merasa minder dalam bergaul. Hal yang aku lakukan saat dirumah hanyalah bermain HP atau membaca buku. Hari ini John tiba – tiba mengirim pesan berisi ajakan untuk makan bersama diwarung dekat rumahnya pada pukul 8 malam nanti, karena katanya ada menu baru, tentu saja dia juga mengajak Haru. Karena tidak ada kegiatan lain, akupun ikut.

Pukul 6 ayahku pulang bersama ibukku dari pekerjaannya, ayahku menjalankan usaha kecil – kecilan disuatu tempat, ibuku juga bekerja dengan membantunya berjualan. Galard Hammerson dan Desy Clayton adalah nama kedua orang tuaku. Akupun memberitahu mereka bahwa kakak sedang main keluar dengan temannya dan aku ada janji makan bersama pukul 8 nanti, mereka mengizinkanku. Aku kembali menutup kamar sambil tiduran menunggu waktu menunjukkan pukul 8, tiba – tiba aku teringat kejadian di kamar mandi tadi. Aku berusaha keras mencoba berpikir positif tentang kejadian itu, tapi tetap saja itu selalu mengganjal dipikiranku. Sudah pukul 7.40, perjalanan kesana pasti akan memakan waktu, karena rumah John agak jauh dari rumahku dan Haru, aku langsung saja berangkat. Kebetulan saat keluar rumah aku melihat Haru dipertigaan dan langsung memanggilnya.

”Haruu…”
“Hai, Steve kebetulan ketemu kamu” balasnya
“iya, haha” balasku malu – malu.

Sekedar info sebenarnya aku menyukai Haru sejak pertama kali kita berteman, dia baik hati dan cantik, namun aku selalu berpikir mana mungkin aku berpacaran dengannya, Maksutku dengan mukaku yang pas – pasan dan hidupku yang serba suram mana mungkin Haru mau denganku. Jadi, aku selalu memendamnya semenjak pertama bertemu dengannya. Bagiku melihat senyumannya saja sudah membuatku bahagia.

“Bagaimana kalau kita berangkat bersama, sehubung dengan jalan yang kita tuju juga sama?” pinta Haru.

Bukan main senangnya diriku bisa berjalan sendirian bersama Haru. Saking senangnya aku lupa untuk menjawabnya dan senyum – senyum sendiri.

“Steve?” kata Haru sambil melambaikan tangannya didepan wajahku
”Oh… ya ya Haha” jawabku gugup, kami berdua pun berjalan bersama menuju rumah John.  

Akhirnya sampai dirumah John, kami berdua memanggilnya, tidak lama kemudian dia keluar lalu menuntun kami pergi kewarung yang berada didekat rumahnya.

“Karena aku yang mengajak aku akan mentraktir kalian, minumnya es teh tidak apa – apakan?” kata John sembari menutup pintu rumahnya dan menghampiri kami
“Ya, John terima kasih” jawab aku dan Haru bersamaan.

Ternyata menu barunya terasa sangat lezat dan porsinya tergolong besar jika dibandingkan dengan porsi biasa diwarung ini, dan harganya juga fantastis. Setelah makan John mengajak kami kerumahnya sebentar untuk berbincang – bincang. Sampai dirumah John timbul keinginanku untuk menceritakan kejadian dikamar mandi. Setelah dipersilahkan duduk, John berganti baju sebentar, lalu kembali dan ikut duduk bersama kami.

“Eh John, Haru dengarkan aku baik – baik” aku langsung memulai percakapan
“Memangnya ada apa Steve, kau kelihatan serius sekali?” Tanya John keheranan
“Iya, ada apa Steve?” tanya Haru polos
“Begini bla…bla…bla…bla…bla…” aku menceritakan kejadian yang aku alami dikamar mandi. Tiba – tiba John tertawa sambil berkata
“Hahahaha mungkin ada hantu yang kencing disitu wkwkwk”
“Aku serius, John” jawabku serius
“Mungkin hanya halusinasimu saja, Steve” jawab Haru polos
“Meskipun begitu tetap saja mengganjal dipikiranku” jawabku sedikit panik
“Yah baiklah besok kita bicarakan lagi disekolah kalau kau melihatnya lagi” jawab John dengan masih sedikit tertawa

Aku dan Haru berpamitan dengan John lalu pulang bersama

“Sudah jangan terlalu dipikirkan, kita lihat besok saja kalau masih seperti itu kau bisa menceritakannya kepada kami” kata Haru mencoba menenangkanku
“Ya, terima kasih Haru” jawabku.

Setelah mengantarnya sampai pertigaan gang kami aku pulang kerumah, ternyata orang tua dan kakakku sudah tidur. Aku mengunci pintu rumah dan pagar lalu pergi kekamar dan langsung tidur.

Esok paginya aku bangun, bersiap – siap dan berangkat kesekolah. Pelajaran pertama adalah Bahasa Inggris, aku beralasan untuk pergi kekamar mandi ditengah – tengah jam pelajaran. Begitu masuk kamar mandi tidak terjadi apa – apa, lalu aku mencoba untuk buang air. Yang benar saja suara air dari dalam toilet kembali berbunyi dan suaranya berasal dari ruangan yang sama, aku mencoba mengintipnya. Kali ini berbeda aku melihat sekelebat bayangan putih bergerak cepat lalu menghilang dari dalam bilik kamar mandi itu. Aku langsung berlari keruang BK dan menceritakan apa yang barusaja aku alami. Guru itu keheranan karena dari dulu sampai sekarang belum ada murid yang terganggu dikamar mandi itu. “Mungkin hanya halusinasimu saja” kata Guru tersebut. Akupun meninggalkan Ruang BK sambil keheranan apakah ‘itu’ ada hubungannya dengan aku. Aku kembali kekelas dan menunggu hingga jam istirahat sambil memerhatikan guru Bahasa Inggris menjelaskan. Bel istirahat berbunyi. Seperti biasa John dan Haru langsung menghampiriku

“Kami tau kau tadi mencoba kekamar mandi karena penasaran dengan kejadian yang kau alami kemarin kan?” tanya John
“Tentu saja” jawabku sedikit membentak
“Lalu bagaimana?” tanya Haru
“Setelah mendengarkan penjelasan dari Ruang BK sepertinya ‘dia’ hanya menggangguku tapi tidak mengganggu murid lain” jawabku sambil memasang wajah serius
“Lalu kau mau bagaimana?” tanya John
“Aku akan mencoba ke orang pintar untuk menanyakan hal ini” jawabku
“Yah sepertinya itu satu – satunya pilihan, baiklah aku akan menemanimu” balas John
“Tidak aku, sendiri saja lagipula ini masalahku, aku takut kalian akan terlibat juga dengan ini” jawabku
“Baiklah kalau begitu, hati – hati ya” balas Haru.

Jam istirahat usai dan dilanjutkan jam pelajaran Sosial dan Biologi lalu pulang. Hari ini Haru ada acara dengan temannya jadi hanya aku dan John, tapi seperti biasa rumah John dekat dengan sekolah, jadi dia pulang terlebih dahulu. Aku sendirian.

Sampai dirumah hanya ada kakak, sepertinya orang tuaku belum pulang. Aku langsung bertanya pada kakakku apakah dia tahu atau memiliki kenalan semacam orang pintar. Untungnya ada, dan jaraknya hanya 3 rumah dengan rumahku. Bagaimana aku bisa tidak tahu??. Selesai makan malam aku meminjam uang kakakku lalu pergi kerumah sang orang pintar. Tentu saja rumah orang itu seperti berbau mistis. Aku mengetuk beberapa kali hingga ia mengizinkanku masuk.

“Ada masalah apa?” tanya orang pintar tersebut sambil menyuruhku duduk. Aku duduk dan langsung menjelaskan.
“Begini, aku merasa diikuti oleh ‘sesuatu’ bisakah kau menanyakannya, kenapa dia mengikutiku?” jawabku sedikit gugup dengan penampilan orang pintar tersebut
“Sebentar” jawabnya sambil mengucapkan bahasa yang tidak aku mengerti. Setelah sekian menit dia akhirnya berbicara,“Dia mengikutimu karena dia bilang dia mengenalmu, dia juga meminta maaf padamu karena hanya bisa menampakkan dirinya dikamar mandi dan membuat kesalahpahaman” kata orang pintar tersebut
“Apa?!?! Bisakah kau tahu siapa dia?” jawabku sambil kaget dan kebingungan
“Sebentar” sambil mengucapkan kata kata aneh.“Katanya namanya Keny, Keny Catherine, dan dia juga mengatakan  akan berhenti mengganggumu dan akan menemanimu hingga ingatanmu kembali” jelas orang pintar tersebut.
“Tu… tunggu….” Kataku penasaran sambil terbata – bata, “Maaf tapi dia sudah pergi” kata orang pintar tersebut.
“Baiklah, terima kasih pak, ini uangnya” jawabku sambil menaruh uang dimejanya. Akupun meninggalkan rumahnya dan kembali kerumah.

Sesampainya dirumah aku benar – benar bingung, apa maksud dari semua ini, Keny… mengenalku?…sampai ingatanku kembali?…, semua kata – kata itu masih terngiang dikepalaku. Kakakku bertanya ada apa kau mencari orang pintar, aku menjawab tidak apa – apa hanya penasaran lalu kakakku tidak menghiraukanku, aku langsung pergi kekamar dan merebahkan badanku dikasur. Aku lalu tiduran memikirkan hal itu hingga akhirnya aku tertidur.

Esok pagi karena semakin penasaran aku berangkat sekolah pagi sekali. Tidak ada suara lagi seperti sebelumnya. Aku berpikir ini benar – benar perbuatannya si Keny itu, tapi siapa dia?. Aku kembali kelas dan ternyata John dan Haru sudah datang. Mereka langsung bertanya padaku “Bagaimana?” tanya mereka berdua, “Dia tiba-tiba menghilang” jawabku, “Bagus kalau begi..” sesaat sebelum John menyelesaikan kalimatnya aku langsung memotong perkataannya, “Tapi, sekarang aku malah semakin bingung dan penasaran” jawabku dengan muka kebingungan, “Memangnya kenapa?” tanya Haru, “Apakah kalian pernah mendengar nama Keny? Keny…. Keny…. Keny Catherine?” aku bertanya balik. “Siapa itu, pacarmu?” jawab John sambil menggodaku, “Bukan” jawabku sambil ngotot, “Kalau kau Haru?” aku bertanya pada Haru, “Nahhh… entahlah siapa itu?” jawabnya pelan. Haru nampak murung saat aku menanyakan tentang Keny Catherine. Tiba – tiba ia meninggalkan kami dan mengatakan ingin pergi ke toilet, sesaat dia melewati pintu kelas aku melihat dia sedikit meneteskan air mata nya. Aku semakin keheranan. “Hei, Aku tau kau menyukai Haru tapi jangan melihatnya seperti itu” kata John.  

Jam – jam sekolah kulalui seperti biasa, kecuali wajah Haru yang akhir akhir ini nampak sedih selama Jam setelah istirahat bahkan saat jam pulang dia masih terlihat sedih. Aku juga merasa seperti dia menjauhiku. Dalam perjalanan pulang setelah John berpisah, John menyuruhku untuk menghibur Haru. Aku bertanya padanya “Haru, kau kenapa? Kau seperti terlihat sedih” tanyaku, “Steve, begini, apa yang dikatakan oleh Keny melalui orang pintar tersebut” tiba – tiba dia menanyaiku sambil berwajah serius bercampur sedih, “Dia mengatakan namanya dan dia mengatakan akan berhenti mengganggu hingga ingatanku kembali” ,setelah mengatakan itu Haru langsung menangis dan memelukku erat, sejujurnya aku senang sekali, tapi entah kenapa aku seperti ikut terbawa kesedihan yang diluapkan Haru hingga meneteskan air mata tanpa alasan, aku memeluknya kembali “Sudah Haru jangan menangis, aku jadi ikut sedih” jawabku. Haru melepaskan pelukannya dan dia langsung berlari pulang meninggalkanku. Akupun pulang sendirian dan sejak melihat Haru seperti itu, setiap aku sendirian aku selalu merasakan kesedihan yang tidak aku ketahui penyebabnya. Sesampainya dirumah aku makan malam dan kembali memikirkan semuanya, ditambah reaksi Haru yang barusan, malah semakin membuatku bingung akan seluruh permasalahan ini. Hingga akhirnya tertidur.

Esok paginya dikelas John terlihat seperti sedang mencari seseorang dan kemudian bertanya padaku “Hey, Steve apa kau melihat Haru?”, “Tidak, memangnya kemana dia?” aku bertanya balik, “Jarang sekali sudah jam segini dia masih belum datang” jelas John. Jam pelajaran dimulai oleh pelajaran Matematika, Haru tetap tidak datang, ini aneh, “Apa Haru sedang sakit?” pikirku. Pada jam istirahat, aku bertanya kepada John apakah dia mau ikut denganku pergi kerumah Haru untuk menjenguknya karena mungkin saja ia sakit, Johnpun ikut. Ketika bel tanda sekolah usai berbunyi, kami berdua bergegas pergi kerumah Haru. Tidak tahu dengan John, tapi ini adalah pertama kalinya aku bertamu kerumah Haru, biasanya aku hanya lewat memberitahukan PR jika Haru sakit, atau sekedar lewat. Kami mengetuk sebentar dan memanggil Haru. Tak lama kemudian Haru keluar, tapi dia hanya membuka sedikit pintu rumahnya dan mengintip kami dari balik pintu hanya menunjukkan sebagian wajahnya. “Apa…?” tanya Haru dingin, “Kami ingin menjengukmu, apa kau tidak enak badan?” tanya John, “Tidak, aku tidak apa – apa, kalian pulang saja” jawab Haru sambil menutup pintunya dengan cepat. “Wiiihhh Haru bisa serem juga ya?, sebenarnya ada apa dengannya?” kata John yang masih keheranan, “Entahlah” Aku juga tidak tahu apa yang terjadi dengan Haru. Seperti yang kalian ketahui, aku sudah mengenal Haru semenjak SD tapi hanya itu saja. Aku tidak dapat mengingat apa – apa saja yang dulu aku lakukan semasa kecilku. Aku memang ingat bagaimana dulu aku bertemu dan kemudian berteman dengan Haru, tapi aku merasa ada hal penting yang terlupakan. “Kau tidak tahu apa yang tidak kau ketahui” seperti itu rasanya. Jika aku mencoba mengingatnya tidak ada satupun hal yang dapat terpikirkan, terasa seperti benar – benar tidak ada apa apa. Setelah berpisah dengan John diperempatan, aku berjalan menuju kerumah. Sesampainya dirumah, aku langsung melemparkan tubuhku keatas kasur dan bermain hp. Tiba – tiba ada pesan masuk, ternyata dari Haru. Pesan itu bertuliskan kata – kata pendek berbunyi ‘semoga kau mengingatnya’, dan tiga buah gambar, yaitu gambar seorang ayah, ibu, anak perempuan dan anak laki laki yang wajahnya mirip sepertiku. Aku benar – benar bingung dan langsung membalasnya dengan menanyakan siapa mereka. Tapi, Haru sudah tidak membalasku lagi. Aku tetap menunggu balasannya hingga pukul 11. Akupun tertidur. Aku tiba – tiba terbangun, tapi tubuhku terasa bergerak sendiri, aku menyimpulkan bahwa aku sedang bermimpi. Dimimpi tersebut aku bertemu dengan Ayah, Ibu dan adik perempuan  pada foto yang dikirim Haru. Dimulai dari masuk ke entah rumah siapa, makan bersama tiga orang yang ada difoto, mandi lalu berjalan menuju kamar untuk tidur. Tiba – tiba aku mencium bau terbakar dari luar kamar, asap itu banyak sekali hingga masuk kedalam kamarku lalu………..

Kriiiiiiingg…….Kriiiiiingg…….Kriiiiiiinggg, Aku dibangunkan oleh alarmku dipagi hari. “Ah sial mengganggu saja” kataku dalam hati. Akupun segera bangun dan berangkat kesekolah. Kebingunganku semakin bertambah oleh kejadian saat aku bermimpi akupun tidak memperdulikannya dan tetap berangkat. Aku sempat bertemu John dijalan dan kita berangkat bersama hingga kekelas, tetapi Haru… tetap tidak datang.


Aku melalui segala aktivitas dan pelajaran disekolah seperti biasa dan aku akan mencoba menjenguk Haru satu kali lagi. Aku mengajak John, tapi ia bilang ia tidak bisa. Orang tuanya memanggilnya karena ada urusan penting, jadi dia tidak ikut. Akhirnya aku berangkat sendiri. Sampai didepan rumah Haru, aku hanya mengetuk pintunya pelan dan tidak memanggilnya, aku takut dia  merasa terganggu. Pintu depan rumah terbuka Haru kembali mengintip dari balik pintu, tapi belum sempat aku mengatakan apa – apa dia langsung menyuruhku masuk begitu melihatku. Aku masuk kedalam rumah Haru, sambil melihat sekeliling. Haru sepertinya orang yang cukup kaya, dilihat dari banyak lukisan, dan hiasan serta perabot – perabot yang terlihat mahal. Setelah puas melihat – lihat tidak terasa dia menuntunku berjalan hingga kekamarnya. “Yang benar saja” dia langsung mempersilahkanku masuk, aku benar – benar senang. Setelah berada dikamar kami berdua duduk terdiam selama beberapa menit, Akupun memberanikan diri bertanya “Ada apa Haru?”. Dia tidak menjawab pertanyaanku melainkan dengan tegas ia mengatakan “Coba kau usap bagian atas kepalaku”, Sialllllll, ada apa dengannya hari ini!?!??! tiba – tiba menyuruhku mengusap kepalanya, aku terus berdiam diri berpikir apakah aku benar – benar boleh mengusap kepalanya. Setelah melihatku yang terdiam cukup lama dia mengatakan “Sudah lakukan saja”, “ Eh… baiklah” aku menjawabnya dengan gugup. Saat mengusapnya perlahan – lahan, entah kenapa aku mengingat pernah mengusap kepala seorang gadis seperti ini dulu, Ya… seorang gadis….. saat aku berada dirumah sakit dulu. Aku merasa aneh, aku bahkan tidak ingat bahwa aku pernah pergi kerumah sakit manapun. Aku teringat sesuatu, tapi saat mengingatnya kepalaku menjadi sangat tidak karuan. Aku merasakan rasa sakit yang luar biasa dikepalaku tiba – tiba aku tertidur.

Saat bangun aku sadar aku berada dirumah sakit, aku melihat Haru yang menunduk dan menangis didepanku sambil memegang tangan kiriku. Aku senang sekali, tangannya yang kecil dan halus seakan memberikan ketenangan pada diriku. Lalu ia mengangkat wajahnya keatas sambil memperhatikanku, setelah itu dia langsung menaruh tangan kiriku keatas kepalanya. Aku sepertinya mengingat sesuatu yang aku tidak ketahui…banyak hal, banyak hal, banyak hal, banyak hal…………eh tunggu ada apa ini tiba – tiba seakan pikiranku dirasuki sesuatu. Banyak ingatan – ingatan yang masuk kedalam pikiranku, aku mulai merasa aneh…… ada apa ini?….

Aku ingat!

Aku mengingat semuanya!

Aku mengingat segala hal yang terjadi padaku dulu. Mulai dari adik perempuanku Keny Catherine, ayahku, ibukku, masa – masa kecilku bersama Haru dan kejadian besar yang menimpaku. Dan nama ayah ibuku adalah……..Tommy Hammerson dan Lona Catherine. Tu…tunggu dulu lalu siapa itu Galard Hellington dan Desy Clayton?......Tak lama kemudian kedua orang tuaku datang, mereka mengatakan bahwa mereka datang secepat mungkin setelah mendapat pesan dari Haru. Mereka takut aku terkena apa – apa. Ayahku langsung bertanya kepadaku “Apa yang terjadi padamu?”, ibuku ikut bertanya “Apa kau kelelahan atau mungkin terkena penyakit serius?”. Setelah membiarkan mereka menyelesaikan kata – katanya aku langung mengatakan sesuatu pada mereka “Biar aku luruskan segalanya, sekarang jawab SIAPA KALIAN SEBENARNYA?”. “Kami orang tuamu Steve?” jawab ibuku dengan wajah yang nampak sedih. “Jangan bohong, aku ingat sekali wajah orang tuaku, sekarang katakan SIAPA KALIAN SEBENARNYA???” balasku sambil membentak mereka. Setelah terdiam cukup lama, dengan bernafas berat ayahku langsung menjawab. “ Nak… sepertinya kami tidak bisa menyembunyikan ini lagi….huuuuhh…… baiklah akan aku ceritakan. “Dahulu Ayahmu dan aku adalah sahabat ditempat kerja, dia selalu membantuku dan aku juga selalu membantunya. Tak lama kemudian kami berdua masing – masing menikah, dan kemudian masing – masing mempunyai anak, tetapi kami masih bekerja ditempat yang sama. Ayahmu dikaruniai dua anak, sedangkan aku hanya satu”. Suatu hari ditempat kerja aku melihat ayahmu, dia terlihat sangat kelelahan. Aku bertanya ada apa dengannya?, dia hanya menjawab tidak apa – apa. Karena begitu katanya aku hanya menyuruhnya untuk banyak – banyak beristirahat dirumah. Tiba saat jam pulang kerja, ayahmu tampak semakin kelelahan. Aku melihatnya pulang kerumah sambil membawa botol yang kelihatannya berisi alkohol. Akupun menghampirinya untuk mengingatkannya bahwa apapun yang terjadi jangan sampai kau meminum sesuatu yang seperti ini. Dia tersenyum dan mengatakan terima kasih atas sarannya, tetapi tetap membawanya pulang. Karena aku curiga dia pasti akan meminumnya. Akupun mengikutinya sampai kedepan rumahnya. Tak lama ia masuk rumah, aku mendengar teriakan pelan. Terdengar seperti ayahmu memarahi ibumu, aku hanya mendengar sedikit perkataannya dan yang paling sering terdengar adalah nama Keny. Lalu tiba – tiba beberapa menit kemudian terdengar pukulan dan pecahan kaca. Karena semakin penasaran aku masuk kedalam pekarangannya dan mengintip lewat jendela. Aku terkaget melihat ibumu tertidur dilantai dengan darah dikepalanya  dan terlapisi minyak, juga darah yang ada di pecahan botol kaca yang dipegang oleh ayahmu. Aku ingin masuk kedalam, tetapi sudah terlambat. Ayahmu tiba – tiba menyalakan api dari korek kayu dan menjatuhkannya kelantai. Seketika itu rumahmu terbakar. Aku segera berlari keluar dan menelpon polisi dan pemadam kebakaran. Sesaat setelah api mulai menyebar aku melihat seseorang yang mencoba melompat dari lantai dua rumah tersebut. Orang itu adalah kau. Kau melompat sambil menggendong adikmu, lalu jatuh dan langsung tak sadarkan diri. Aku langsung kembali kepekarangan dan membawa kalian keluar. 10 menit kemudian polisi dan pemadam datang. Aku menceritakan segalanya dan menelpon ambulan untukmu. Saat dirumah sakit aku terus bersamamu dan adikmu sambil menangis melihat hancurnya keluarga sahabatku, hingga kau terbangun. Kau tiba – tiba bertanya “Dimana Keny…. Katakan DIMANA KENY?”. Keny sudah tidak terselamatkan lagi banyak luka bakar di sekujur tubuhnya selagi ambulan mengantarkan kesini dia sudah………. Mendengar itu kau langsung bangun melihatnya berbaring di tempat tidur sebelahmu sambil menangis tidak karuan dan berteriak. Setelah itu kaupun tertidur dan aku tetap menemanimu. Esok paginya aku terbangun kau sudah tidak ada dikasur dan jendela rumah sakit terbuka. Sepertinya kau ingin bunuh diri dengan melompat dari lantai dua dan jatuh hingga kepalamu berdarah. Setelah bangun kau benar tidak mengingat apa – apa. Kau bahkan tidak tahu siapa dirimu untungnya kau masih hidup. Mengetahui itu aku sangat senang dan sedih lalu memutuskan untuk merawatmu ketika kau sudah sembuh total. Aku meminta dokter untuk mengubah namamu menjadi Steve Hammerson, namamu sebenarnya adalah Steve Hellington dan….”

“Sudah cukup, hentikan…… aku sudah….. sudah…… mengingatnya jadi HENTIKAN……..” jawabku sambil menangis tersedu sedu.

Belum sempat aku menghentikan tangisanku tiba-tiba Keny muncul dihadapanku. Dia lalu tersenyum lebar dan mengatakan “Terima kasih kakak sudah mencoba menyelamatkanku, aku tahu kakak memang baik hati, tapi aku mohon janganlah mencoba untuk bunuh diri. Karena itu bisa membuatku sedih”. Setelah itu Keny menghilang. “Iya, Keny kau benar aku beruntung masih bisa hidup didunia ini, aku beruntung masih ada yang mau mengasuhku, aku juga beruntung punya keluarga seperti dulu, dan ………. Aku beruntung punya adik sepertimu… hiks….hiks”. Setelah mengetahui semuanya aku langsung memeluk ayah ibukku dan meminta maaf pada mereka. Aku tidak peduli jika kita tidak memiliki darah yang sama Ayahku adalah ayahku Ibuku adalah ibuku. Itulah hal yang bisa membuatku bertahan sampai sekarang ini ditambah kata-kata Keny.

2 Minggu setelah itu aku merasa lebih termotivasi untuk menjalani hidupku. Aku lalu mengikuti ekskul Band disekolahku, aku sering mengikuti olimpiade-olimpiade yang diadakan oleh sekolah, Aku mulai lebih sering bergaul dengan teman-temanku dan …….

“Hai, Haru”
“Hai, Steve”
“A… a….”
“Hmmm?”
“Apa kau mau jadi pacarku?”

Whooo…… (Suara teriakan anak-anak dikelas)

“Hmmm…. Ma…”
“Eit sedang apa kalian?”

Entah dari mana John muncul dan mengganggu pembicaraan pentingku dengan Haru
“Eh, John mengganggu saja”
“Sudahlah bagaimana kalau pergi kekantin?”
“Aku ikut” kata Haru
“Heh…. Baiklah aku ikut”


Pada akhirnya kita bertiga kembali seperti biasa. 3 siswa SMA yang akrab dan bersahabat.

Sabtu, 13 Agustus 2016

Kisah Sang Pemburu



          Disuatu malam yang gelap terdapat seorang pemburu yang sedang mencari hewan untuk dimakan.Yah.... bagaimana tidak, sudah 2 minggu semenjak Si Pemburu pergi dari desa tempat kelahirannya yaitu Desa Selatan. Gempa yang dahsyat memporak- porandakan desa tersebut. Desa itupun hanjur dan hampir tak berbentuk. Si Pemburu yang saat itu berada diluar desa selamat, lalu meninggalkan desa dan berpergian kesana kemari mencari sesuatu untuk dimakan. Hingga akhirnya ia menemukan sebuah hutan yang lebat dan amat gelap

              “Tempat apa ini?, aku merasa ada yang aneh dengan hutan ini”

        Si pemburu sempat ragu dikarenakan hutan itu seperti memancarkan sebuah aura yang menyeramkan.

            “AH TIDAK PEDULI!!, lagipula untuk apa orang-orang di desa menamaiku pemburu jika tidak untuk berburu ditempat seperti ini. Hutan bukanlah masalah buatku. Aku sudah terbiasa dengan hal itu.”

            Nama asli sang pemburu ialah Gord Mogan. Ia sebenernya hanyalah warga biasa di Desa Selatan. Dia hidup sendiri, kedua orang tuanya meninggal dunia dikarenakan sakit yang parah dan tak kunjung sembuh, sedangkan kakaknya Korg Smith pergi berpetualang untuk mencari “Stone of the Lost” yang katanya mampu mengabulkan segala permintaan. Setelah itu kakaknya pun pergi dan tak pernah kembali. Sedangkan dia sendiri dijuluki Si Pemburu karena hobinya yang suka mencari makan di hutan dekat desanya dengan membunuh hewan dan mengambil tumbuhan. Selama 5 Tahun ia telah hidup sendiri. Sehari setelah kakaknya pergi gempa itu terjadi...

“Walau aku sering pergi kehutan dekat desaku hutan yang ini sangat aneh. Aku merasakan ada sesuatu yang mengawasiku di setiap langkah kakiku. SIAL!!. Mengapa hutan dekat desaku harus hangus terbakar, padahal kejadian yang menimpa tempat tinggalku adalah gempa, Aneh.., Ah sudahlah pokoknya harus dapat makanan.”

Setelah bepikir panjang dan dengan perut yang terus bergema ia terus mencari mangsa. Namun, anehnya hutan tersebut benar-benar sangat sunyi, bahkan begitu sunyinya sampai tidak ada suara sekalipun. Benar-benar hening. Menyadari hal tersebut Si Pemburu menyerah dan hampir meninggalkan tempat tersebut. Tiba-tiba terdengar suara!

            “T...l...on..”
            “To...lo....g”

            “Siapa disana?”, tanya Si Pemburu penasaran

             Kresek kresek

          Dengan cepat seorang gadis cantik keluar dari semak-semak dan mendekati Si Pemburu. Si Pemburupun kaget dan langsung menghentikannya.

            “SIAPA KAU?”, tanya Si Pemburu kaget.
            “Aku adalah gadis dari Desa Barat, tolong aku”, jawab gadis itu.
            “Kenapa aku harus menolongmu?”
            “Karena aku tersesat”
            “Kau tersesat?, lagipula kenapa kau bisa sampai disini”
            “Aku sedang mencari sebuah batu ajaib. Apa kau pernah dengar “Stone of the Lost”?”
        “(Hmmm..... itu adalah batu yang dicari kakak) Pernah, lagipula kenapa kau mencarinya disini?”
            “Karena kertas itu mengatakan aku harus menuju ke Timur untuk masuk kedalam hutan yang benar-benar sunyi”
            “Kertas?”
        “Iya, aku juga tidak tau, sesaat setelah aku pergi dari rumah dan mencari batu itu tiba-tiba secarik kertas turun entah dari mana dan mendarat didepanku”
           “Ooo.. jadi begitu (Bila aku mengikuti gadis ini aku pasti bisa menemukan kakak) Baiklah aku akan menemanimu, lagipula aku juga tidak tau harus kemana dan aku sangat lapar”
            “Kalau begitu ayo kita makan, aku membawa bekal”
            “(Haha memang untung tidak kemana) Baiklah, Terima Kasih”

           Mereka berdua pun berkemah dihutan dan makan bekal yang dibawa sang gadis sambil sedikit berbincang-bincang.

            “Ngomong-ngomong siapa namamu?”
            “Namaku Clarabel Rose, Kau?”
            “Aku Gord Mogan, Senang bertemu denganmu”
            “Senang bertemu denganmu”
            . . . . . . .
            “Ngomong-ngomong kenapa kau mencari batu itu?”
      “Ehh... sebenarnya aku hanya iseng mencari batu itu. Setelah mendapat kertas itu aku membacanya dan langsung pulang kerumah, tetapi 1 hari kemudian saat aku mengambil air di sungai aku merasakan getaran yang amat hebat. Akupun langsung berlari menuju ke desa yang ternyata sudah hancur lenyap seperti terkena gempa. Semua orang di desa itu hilang, aku bingung dan langsung mengikuti petunjuk kertas tersebut”
            “Tunggu dulu . . . Kau bilang terjadi gempa sehari setelah kau mencoba mencari batu itu?”
            “Iya”
           “Kakakku sebenarnya juga mencari batu itu, dan sehari setelahnya terjadi gempa didesaku, aku selamat dan langsung pergi dari desa itu”
            “Benarkah?, apakah gempa ini ada hubungannya dengan batu itu?”
            “Mungkin saja (Tapi kenapa?)”
        “Ayo kita bergegas menemukan batu itu, mungkin saja kita bisa mendapat petunjuk setelah menemukan batu tersebut”
            “Ya, Baiklah”

       Merekapun berkemas dan segera menyusuri hutan, tiba-tiba kertas kedua jatuh dihadapan mereka. “Teruslah berjalan kearah Timur hingga kau menemukan sebuah gerbang tua berbentuk setengah lingkaran dan tertutup lumut, lalu lewatlah melalui gerbang tersebut” begitulah isi dari kertas tersebut. Mereka lalu berjalan maju hingga sampai pada sebuah gerbang yang amat tua dan tertutup lumut. Mereka mendapati seperti ada tulisan yang tertutup lumut dan membersihkannya. “Go Forward” begitulah tulisannya.

           

“Bagaimana menurutmu, Rose?”
            “Sepertinya ini tempatnya, ayo kita lewati”
            “Hmm.... iya”

         Setelah melewati gerbang merekapun dikejutkan oleh pemandangan yang luar biasa indah. Pohon-pohon hijau nan sejuk, burung-burung berkicauan nan merdu, dan hewan-hewan berkeliaran seperti layaknya hutan hujan tropis yang masih belum tersentuh oleh manusia.
           
            “Wow!!...... Tempat apa ini”
            “Sepertinya ini adalah dunia lain dari hutan yang tadi”
            “Tapi ini begitu indah, aku sampai tidak ingin pergi dari tempat ini”
            “Cepat Rose, perjalanan kita masih jauh”
            “Baiklah”

            Sesaat ketika hendak bergerak kertas ketiga jatuh dihadapan mereka “Pergilah ke arah Barat kau akan menemukan sebuah kuil, jika dari posisi keluar gerbang kau pasti menghadap ke Barat”

            “Jadi dari sini kita tinggal berjalan lurus?”
            “Ya... begitulah”

         Mereka terus berjalan dan berjalan hingga akhirnya mereka keluar dari hutan dan melihat tempat yang sungguh berbeda dari tempat mereka sebelumnya. Tidak ada jalan beraspal hanya ada rerumputan, seperti kehidupan pada zaman dahulu kala. Sambil menikmati angin yang sejuk mereka meneruskan perjalanan, hingga akhirnya menemukan sebuah kuil. Namun, tidak seperti yang mereka bayangkan, kuil tersebut sangat utuh dan bahkan terlihat kokoh dan masih baru. Karena penasaran mereka mendekatinya dan kertas keempat turun dihadapan mereka. “Masuklah kedalam kuil tersebut disana kau akan menemukan petunjuk berikunya” Mereka akhirnya memasuki kuil tersebut tanpa pikir panjang. Tiba-tiba batu-batu besar jatuh menimpa pintu kuil tersebut membuat mereka terkunci didalamnya. Setelah sekian detik obor-obor disamping kuil mulai menyala dan menunjukkan jalan.

            “Wow... aku sempat kaget tadi, kau tidak apa-apa?”
            “Eh... ya aku tidak apa-apa”
            “Baiklah. Bagaimana, kita lanjut?”
            “Iyalah, lagipula mau kemana lagi?, kita sudah tidak bisa kembali”
            “Kau benar, ayo berangkat”

      Dalam kuil tersebut tentu saja banyak benda-benda kuno, namun masih terlihat bagus. Mengetahui hal itu Si Pemburu dan Gadis tersebut melihat-lihat benda didalam kuil sambil berkeliling disekitar . Tiba-tiba Si Pemburu seperti menemukan pintu yang terkunci dari dalam. Si Pemburupun memanggil Sang Gadis dan menanyakan ke gadis tersebut. Akhirnya mereka berdua setuju dan Si Pemburu mendobrak pintu tersebut dengan sekuat tenaga. Tetapi, walau Si Pemburu sudah mendobrak pintu tersebut tidak dapat membuka. Merekapun mencari kunci untuk pintu tersebut. Muncullah kertas kelima bertuliskan “Kunci untuk pintu ada didalam laci di bawah tempat rias.  Pintu itu juga merupakan jalan tercepat untuk ke tempat selanjutnya, tetapi jika kau melewati pintu itu akan banyak rintangan menanti. Disisi lain ada jalur yang jauh dengan rintangan yang mudah dengan melewati ruang bawah tanah di samping kuil”.

            “Rose, bagaimana ini?”
            “Entahlah, mungkin lebih baik kita menuju ke ruang bawah tanah yang katanya lebih mudah”
            “Tetapi, jika kita melewati pintu ini kita bisa lebih cepat sampai ke petunjuk berikutnya”
            “Tapi, katanya dibalik pintu itu banyak rintangan akan menanti kita”
            “Hmm... Baiklah terserah kau saja”
            “Yosss.. kita lewat bawah tanah”

            Mereka berduapun setuju untuk melewati ruang bawah tanah di samping kuil. Sesaat setelah mereka masuk ruang tersebut tempat masuk ruang bawah tanah langsung tertutup. Awalnya mereka panik, namun apa boleh buat demi mengetahui kejadian apa yang menimpa mereka dan untuk kembali ke dunia mereka berasal mereka melanjutkan perjalanan. Setelah masuk, mereka melihat pemandangan yang tidak kalah dengan hutan hujan tropis di tempat mereka berasal. Suasana seperti berada di gua ada air terjun yang mengaliri, jalanan berupa pasir dan bebatuan. Merekapun berfikir bahwa rintangannya hanyalah harus melewati tempat yang curam dan terjal seperti ini hingga mereka sampai ditempat tujuan. Setelah perjalanan selama setengah hari mereka pun beristirahat di dekat air terjun yang lumayan tinggi.

            “Hey, ngomong-ngomong berapa umurmu, Rose?”
            “Umurku 18 tahun, kau?”
            “Wah.. tidak beda jauh ya”
            “ Memang berapa umurmu, Mogan”
            “Aku 20 tahun”
            “Iya, kau benar”
            . . . Hening . . .
            “Emmm..  Rose sebenarnya..”
            “Kenapa?”
            “Aku . . .”
            “Hmm..”
            “M....ny..k..im..”
            “Hah apa?”
            “Eh, tidak apa.. ha ha ha”
          “Heh aku kira ada apa. Baiklah selagi kita di air terjun aku mau mandi dulu, Jangan Ngintip, Ya!!”
            “Iya, iya”
            . . . byur byur byur . . .
         (“Eh buset kenapa tidak bilang saja kalau aku menyukainya, tidak kusangka selama melakukan perjalanan ini aku menyukainya”). Pikir Mogan dalam hati.
            “Ahh... segarnya. Kamu kenapa Mogan?, Wajahmu serius sekali”
            “Eh, tidak apa-apa. Baiklah kalau kamu selesai ayo lanjut”
            “Iya”
       (“Yaahh... Kau bodoh sekali Mogan, baiklah aku akan mengatakannya setelah semua ini selesai, Yap”). Pikir Mogan dalam hati sambil mengangguk-angguk.
           
            Merekapun melanjutkan perjalanan. Tak lama kemudian mereka melihat sebuah cahaya yang terang yang ternyata adalah pintu keluar. Mereka senang sekali hingga mucul kertas keenam bertuliskan “Dari tempatmu beranjak pergilah ke Utara hingga kau menemukan sebuah batu yang sangat besar kira-kira 2 kali tinggi manusia”. Sang Pemburu merasakan sesuatu yang janggal dan meminta Sang Gadis untuk memperlihatkan semua kertas yang ada.

           

            “Pergilah ke arah Utara lalu masuklah kedalam hutan yang ada disana. Hutan itu sangat sunyi bahkan suara hewanpun tidak akan ada”
           
            “Teruslah berjalan kearah Timur hingga kau menemukan sebuah gerbang tua berbentuk setengah lingkaran dan tertutup lumut, lalu lewatlah melalui gerbang tersebut”

            “Pergilah ke arah Barat kau akan menemukan sebuah kuil, jika dari posisi keluar gerbang kau pasti menghadap ke Barat”

            “Masuklah kedalam kuil tersebut disana kau akan menemukan petunjuk”

            “Kunci untuk pintu ada didalam laci di bawah tempat rias.  Pintu itu juga merupakan jalan tercepat untuk ke tempat selanjutnya, tetapi jika kau melewati pintu itu akan banyak rintangan menanti. Disisi lain ada jalur yang jauh dengan rintangan yang mudah dengan melewati ruang bawah tanah di samping kuil”

            “Dari tempatmu beranjak pergilah ke Utara hingga kau menemukan sebuah batu yang sangat besar kira-kira 2 kali tinggi manusia”

            “Rose, apa kau merasakan ada sesuatu yang ganjil?’
            “Tidak, memangnya kenapa?”
            “Baiklah, sekarang ingatlah semua tempat yang pernah kita lewati”
            “Hmmmm........... Ya, lalu?”
            “Sekarang perhatikan, dari kertas pertama memang tidak aneh karena hutan sangat luas dan bisa dijangkau pada jarak yang jauh sekalipun. Tetapi, saat petunjuk kedua dan seterusnya yang kita lakukan hanya berjalan lurus mengikuti arah yang disebutkan dalam kertas. Seperti semuanya sudah diatur sedemikian rupa”
            “Waaahhh... Kau benar juga. Karena terlalu senang aku jadi tidak menghiraukan hal tersebut”
            “Senang?... Kau senang?”
            “Eeee... Memang aku tidak boleh senang?”
            “Ya, boleh saja ( Ada apa dengannya? )
            “Sudahlah, lupakan ayo kita lanjut”
            “Baiklah”

       Mereka melanjutkan perjalanan hingga ke batu yang sangat besar. Seperti yang dituliskan dikertas batu itu memiliki tinggi 2 kali tinggi manusia. Kertas ketujuh jatuh “Sekarang kau sentuh batu itu dan tutup matamu selama 1 menit. Ingat, jangan coba-coba membuka mata saat menyentuh batu itu”

“Baiklah Rose, Ingat jangan membuka mata ya”
“Iya, aku tahu”

Tiba-tiba sebuah tempat seperti desa yang sangat besar dan luas muncul setelah satu menit mereka memejamkan mata. Sang Pemburu dan Sang Gadis juga melihat orang-orang yang ada didesa mereka dahulu berada ditempat itu. Merekapun bertanya pada orang-orang yang mereka kenal, namun penduduk desa semua hanya tertawa dan menyuruh mereka bertanya sendiri ke kepala desa di desa ini di rumahnya. Ternyata semua orang didesa itu juga mengalami hal yang sama dan demi mengakhiri perang Si Kepala Desa menyatukan keempat desa. Desa Utara, Desa Timur, Desa Barat, dan Desa Selatan. Dan selama ini desa mereka hancur setelah semua orang berpindah dan sepertinya Si Pemburu dan Sang Gadis merupakan yang terakhir makanya mereka melihat gempa didesa mereka.

“Kalau begitu, kakakku ada disini?” tanya Pemburu.
“Ya, tentu saja. Karena batu terakhir yang kau pegang adalah batu yang biasa disebut “Stone of the Lost”. Jelas Kepala Desa.


Sang Pemburu akhirnya menemukan kakaknya yang sedang memancing dipinggir sungai dan langsung memeluknya sambil menangis. Di waktu yang sama Sang Gadis juga menemukan keluarganya. Seminggu setelahnya Sang Pemburu melamar Sang Gadis. Setelah 43 kali melamar akhirnya Sang Gadis menerimanya dan mereka dikaruniai 2 anak dari pernikahannya. Sekarang semua orang hidup menjadi satu dalam perdamaian tanpa perang maupun pertumpahan darah.